Hanubun mengatakan, dalam sejarahnya, Nen Dit Sak Mas dilahirkan di Letvuan, tepatnya di sebuah selat yang dikenal dengan sebutan Hoat Sorbay.
“Hoat Sorbay adalah sebutan dalam bahasa Kei, akan tetapi kalau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Selat Surabaya, dan konon sejarah Nen Dit Sak Mas adalah turun dari pulau Dewata Bali,” ucap Hanubun.
Hal ini yang ditandai dengan Lambang Lar Vul Ngabal yaitu Nga Bal, (Nga itu tombak, Bal itu dari Bali, yang hingga kini digunakan sebagai lambang Adat Kai.
Hanubun menegaskan, rejeki, jodoh dan kematian semua dalam tangan Tuhan, akan tetapi sebagai orang berbudaya tentu kita harus mengenang dan menginat jasa para pendahulu yang telah meletakan dasar Adat di bumi Kei ini.
Disisi lain, peringatan Nen Dit ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada orang luar bahwa kita orang Kei juga punya kearifan lokal yang patut kita budayakan dan lestarikan.
“Kebiasaan kita, terkadang cepat terpengaruh dengan hal baru sehingga melupakan budaya kita yang lama,” ujarnya.
Tujuan dari peringatan ini semata mata menunjuka bahwa Net Dit yang asli telah meninggal, akan tetapi Nen Dit Nen Dit mudah masih mewarisi budaya yang di tanamkan untuk anak cucu generasi sekarang.
Hanubun mengapresiasi para Siswa Siswi, bahkan dirinya (red) berharap kelak jika suatu saat nanti kalian akan menjadi Agen perubahan,sekaligus Tokoh untuk meneruskan budaya yang telah di wariskan Nen Dit, sehingga budaya ini tetap lestari sepanjang zaman. (saad)









