Bukan Lagi Untukmu

oleh -361 views

Selepas menyelesaikan kelas siang ini, kududuki kursi di pinggiran jalan, di trotoar yang membentang sepanjang jalanan kota, bersama dengan laptop berharga. Ditemani tenangnya Sang pembaca musikalisasi, kubiarkan orang-orang berlalu-lalang melewati. Panas matahari yang menyengat ini, membuat hatiku tergerak mencari obat panas tenggorokan yang kering ini.

Sesampainya di sebuah cafe, kupesan 1 minuman susu rasa matcha. Kubawa minuman itu ke tempat duduk bersampingan dengan dinding kaca tansparan. Melanjutkan musikalisasi yang belum usai, dan menatap pengendara motor, mobil, dan beberapa pejalan kaki. Semenjak kepergian sosok sahabat yang selalu di sisi, aku kehilangan orang dekat yang berwujud, yang tertangkap oleh dua netra ini. Karena dulu, kumiliki 2 orang berarti dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan yang selalu mendengar cerita dalam do’a, dan Rani, sahabat yang selalu menjadi lawan berdialogku sepanjang hari.

Baca Juga  Kisah Nabi Idris AS Diangkat ke Langit, Benarkah Tidak Pernah Wafat?

“Kayak kehilangan doi aja lu Za!” tegas Lia yang selalu kesal melihat sisi lainku yang bersedih.
“Gua hargain lu banget kok, serius. Tapi kan masih ada rasa, kok gitu banget sih Rani waktu itu. Secara yang paling sinkron di hari-hari gua itu dia.” lagi-lagi kuungkit kejadian yang telah berlangsung 2 bulan yang lalu.

No More Posts Available.

No more pages to load.