“Baiklah, mungkin aku udah selesai nyampaikan isi hati. Oh ya, satu. Kamu itu Maheza yang percaya takdir Allah, dan mungkin ini pembelajaran arti ikhlas buat kamu Za.” Sasel menutup pertemuan itu dengan kalimat yang berterbangan di pikiran ku, dan pamit pergi.
Kali ini, pertemuan dengan senja di sore hari sedikit berbeda. Setelah beberapa jam tadi aku dibuat berpikir akan hal yang dulunya aku lakukan. Yang biasanya dihadapan banyak masalah, aku bermonolog bahwa, “ini takdir Allah, yakin kamu bisa jalanin Maheza!.”
Dihadapan senja kali ini, aku menarik nafas panjang bersamaan memikirkan kesakitan akan hal kehilangan sosok makhluk tuhan. Beberapa saat, lalu kulepaskan semua, udara dan kesakitan itu. Semuanya. Dan kembali bermonolog, “Yaa Allah, ada hal indah yang kau berikan. Kehilangan sahabat namun mendapat arti penting yang tersirat.”
“Lia, sekarang aku tau. Ternyata ikhlas walaupun butuh proses dan waktu, itu semua indah. Buat hati nyamaann banget. Atmosfer sekililing kita jadi damai, udara tenang, dan seperti, semesta memeluk raga kita. Dan mengatakan, lepaskan semua yang bukan untukmu.”
“MASYAA ALLAH. ALLAHU AKBAR, ALHAMDULILLAH. Temen gua normal lagi yaa Allah. Hahaha” histeris Lia disertai tawa.









