“Makasih Maheza, sudah datang.”
“Panggil Za aja.” jawabku agar tidak terlalu panjang.
“Kamu pasti sudah mengerti tujuan pertemuan ini. Tentang Rani, aku mungkin sering bersama dengannya, tapi mungkin kamu harus tau dan percaya bahwa aku ga sedekat itu sama dia. Ga sedekat hubungan kamu dengannya.” kalimat awal Sasel sedikit mengejutkanku. Ternyata dia tidak banyak basa-basi. Yang kurasa niat dia baik membicarakan ini.
“Rani memang lagi sibuk-sibuknya sih 3 bulan ini. Iya, sejak awal permasalahan kalian. Dia jadi lebih individualis mungkin ya, karena memang hanya orang yang bertemu langsung sama dia yang diajak komunikasi dan untuk hal penting sih. Media sosialnya juga ga terlalu aktif, cuman dipakai untuk kegiatan. Bisa dibilang fase sibuk-sibuknya. Dan fase itu kalian jalani mungkin di waktu yang berbarengan. So, jadi gitu akhirnya.”
“Iya ngerti kok.” entahlah aku hanya datar menjawab dengan singkat.
“Maheza!, gimana ya. Rani itu sempat cerita tentang kamu sebelum kalian lost contact ini. Sebelum bener-bener berantem. Jadi dari yang aku tentang kamu, dalam hal ini hati kamu belum sepenuhnya nerima mungkin, atau belum mau beradaptasi sama keadaan. Setau aku Maheza yang Rani kenal adalah perempuan periang yang nerima takdir dan ngejalaninya.”
Kali ini kalimat Sasel yang sedikit menuntut aku harus nerima semua, membuat feel tersendiri. Aku masih diam berfikir, Sasel pun sepertinya mengerti.









