Bukan Lagi Untukmu

oleh -360 views

“Ngerti kok Za, sebenernya bukan karena sinkronnya kalian. Tapi karena lo tulus nganggap dia sahabat.” argh flashback kembali ingatan waktu itu. Dalam hatiku meronta pada pikiran sendiri.

“Nanya aja, kok lu jarang chat lagi di WhatsApp, kan kita ketemu juga jarang.” pertanyaanku menambah ketidaknyamanan Rani semakin bertambah.
“Ya udah mending kayak gitu aja, kalo memang jarang komunikasi buat kita ga nyaman.” terdengar tinggi nada itu, membuat kami, dua orang keras kepala ini saling menegang tak mau mengalah.
“Lu aja kan yang ga nyaman. Memang mau lost contact. Udah ada temen baru sekarang gitu lu!” sama-sama tak terkendali emosi, akhirnya Rani pergi tanpa kata terakhir. Aku yang waktu itu dikuasai emosi pun, tak peduli.

Baca Juga  Dorong Integrasi Data dan Digitalisasi Pelayanan, Bupati Aru Luncurkan 57 Website Desa

Aku mengira, sehabis malam kejadian itu, kami akan berbaikan esok hari. Bercerita tentang hari seperti biasanya terjadi. Ternyata tidak. Sangat menyesal, sangat-sangat menyakiti hatiku sendiri. Namun kulihat seperti hanya aku yang kehilangan, sehingga aku merasa hancur dan akhirnya seperti orang depresi yang masih melanjutkan hari. Tanpa kuselesaikan permasalahan hati sendiri.

“Hai Maheza, salam kenal aku Sasel. Iya, aku temannya Rani. Kurasa kamu sangatlah dewasa untuk menyelesaikan masalah ini semua. Jadi, kumohon untuk datang ke cafe dekat kampus kamu, esok jam 2. Hanya untuk mendengarkan sebentar apa yang ingin kukatakan. Sangat kuharap esok bisa bertemu, terima kasih.” kubaca dalam hati pesan yang baru kubuka siang ini. Masih 10 menit lagi, kuselesaikan catatan terkait kelas siang ini, lalu bergegas menemui teman Rani yang kuanggap menggantikan posisiku saat ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.