Karena itu terasa aneh ketika sebagian aktivis masa lalu memandang generasi sesudahnya seolah-olah tidak memahami apa yang sedang mereka lakukan.
Sebab jika mahasiswa hari ini dianggap kehilangan arah hanya karena mengkritik pemerintah, maka pertanyaan yang sama sesungguhnya dapat diarahkan kepada generasi-generasi sebelumnya yang dahulu juga turun ke jalan dengan semangat yang tidak jauh berbeda.
Bukankah mereka pernah dituduh tidak memahami persoalan negara? Bukankah mereka pernah dianggap terlalu muda untuk mengerti kompleksitas kekuasaan? Bukankah mereka juga pernah dicurigai sedang ditunggangi kepentingan tertentu? Sejarah memperlihatkan bahwa tuduhan semacam itu hampir selalu mengikuti setiap gerakan mahasiswa.
Karena itu, alih-alih meragukan kesadaran generasi yang lebih muda, mungkin yang lebih bijak adalah melihat mereka sebagai penjelmaan dari tradisi kritis yang dahulu juga diperjuangkan oleh generasi yang lebih tua.
Tradisi yang meyakini bahwa cinta kepada negeri tidak selalu dinyatakan melalui peluk sanjung kepada mereka yang sedang berkuasa.
Sering kali cinta itu justru hadir dalam bentuk keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang tidak ingin didengar oleh kekuasaan.
Persoalan berikutnya adalah kecenderungan untuk membangun dikotomi bahwa mahasiswa yang menolak atau meminta penghentian suatu program pemerintah otomatis sedang mengadopsi paradigma neoliberal.











