Di sinilah penjilatan menjadi pekerjaan yang agak aneh.
Seseorang dapat memuji orang lain dengan begitu bersemangat, bahkan melebihi kebutuhan orang yang dipujinya. Ia menciptakan keagungan yang mungkin tidak pernah diminta. Ia menyusun kesalehan yang mungkin tidak pernah diklaim. Ia bahkan dapat membangun citra yang begitu tinggi sehingga orang yang bersangkutan sendiri mungkin kesulitan mengenali dirinya di dalamnya.
Tetapi publik tidak memiliki kewajiban untuk menerima cerita itu.
Mereka bisa tertawa. Mereka bisa mencibir. Mereka bisa menganggapnya sebagai lelucon yang tidak disengaja. Dan olok-olok itu pun belum tentu sampai kepada telinga orang yang menjadi pusat pujian. Ia mungkin tetap hidup dalam dunianya sendiri, sementara di luar sana buku yang dimaksudkan untuk mengangkat namanya justru sedang menjadi bahan percakapan.
Karenanya, sebuah buku yang diniatkan sebagai penghormatan dapat berubah menjadi semacam cermin yang tidak mengenal belas kasihan. Ia tidak memantulkan wajah yang hendak dibuat oleh para penulisnya, melainkan memperlihatkan jarak antara wajah itu dan kenyataan.
Barangkali begitulah nasib sebuah buku yang terlalu banyak memuji.
Sebab manusia tidak hidup di dalam buku. Ia hidup di tengah kenyataan, tempat orang melihat dengan mata sendiri, mengingat dengan ingatannya sendiri, dan menilai dengan pengalaman yang tidak dapat diatur oleh siapa pun.









