Bumi Halmahera: Dari Mata Air di Hulu ke Airmata di Hilir

oleh -769 views

Namun di balik gemerlap statistik itu, terselip ironi yang sulit diabaikan.

Jejak Luka di Tanah Kaya

Ledakan industri ekstraktif tidak datang tanpa harga. Kajian BRIN menunjukkan bahwa ekspansi tambang telah memicu deforestasi dan degradasi ekologis dalam skala besar. Lebih dari 7.000 hektare hutan di Halmahera Tengah dilaporkan rusak. Sungai-sungai tercemar logam berat melampaui ambang batas aman. Pesisir tergerus, mangrove lenyap, terumbu karang rusak, dan udara tercemar oleh aktivitas industri.

Kerusakan ini bukan sekadar angka. Ia menjelma menjadi kenyataan sehari-hari masyarakat.

Petani kehilangan lahan. Nelayan kehilangan ruang tangkap. Konflik lahan antara warga dan perusahaan menjadi ancaman laten yang terus membayangi. Di banyak tempat, masyarakat lokal harus berhadapan dengan ekspansi korporasi yang kerap berlangsung sepihak.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: untuk siapa sebenarnya kekayaan ini dikelola?

Baca Juga  Jelang HUT Bhayangkara ke-80, Kapolres Halsel Pimpin Upacara Tabur Bunga di Laut

Pertumbuhan yang Tak Menyentuh Akar

Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang mencapai 34,17 persen pada 2025 sering dielu-elukan sebagai capaian luar biasa. Namun, angka tinggi itu belum berbanding lurus dengan penurunan kemiskinan, pengangguran, maupun peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Di sinilah paradoks itu terasa nyata—pertumbuhan yang melesat, tetapi kesejahteraan yang tertatih.

No More Posts Available.

No more pages to load.