Chaos Tiga Kali

oleh -179 views
Ahmadie Thaha/Ist

Kata itu terdengar seperti kunci ajaib yang bisa menjelaskan segalanya: demo ojol di Senayan, barikade di depan Mabes Polri, hingga teriakan mahasiswa di Makassar. Seolah cukup dengan menyebut chaos, publik otomatis mafhum: ada tangan-tangan gelap yang sedang mengatur skenario.

Tapi tunggu dulu —kalau benar ada tangan gelap, siapa dalangnya? Dan kenapa seorang Affan Kurniawan, tukang ojol yang tiap hari sibuk mengantar penumpang dan nasi bungkus, harus jadi korban?

Affan jelas bukan bagian dari deep state atau “Geng Solo.” Ia hanya rakyat kecil yang berhadapan dengan moncong barakuda. Nyawanya melayang, keluarganya menangis, dan solidaritas ribuan ojol pun meledak.

Solidaritas itulah yang membuat ribuan ojol turun ke jalan. Bukan karena mereka membaca teori konspirasi di Twitter, melainkan karena mereka tahu: hari ini Affan, besok bisa siapa saja. Dalam dunia ojol, solidaritas itu lebih nyata ketimbang subsidi.

Demo sehari setelah kematian Affan memang luar biasa. Dari DPR sampai markas Gegana di Kramat Raya, semua jadi sasaran. Polisi, mungkin belajar dari tragedi Kanjuruhan, kali ini agak menahan diri: biarkan massa berteriak, lepaskan kecewa. Toh jeritan itu lebih sehat ketimbang diam lalu meletup jadi radikalisme.

No More Posts Available.

No more pages to load.