Chaos Tiga Kali

oleh -177 views
Ahmadie Thaha/Ist

Politik pun masuk: semua orang tahu, kalau Prabowo jatuh, otomatis Gibran naik. Skenarionya jelas: ada kerusuhan, muncul narasi “Presiden gagal,” rakyat marah, tuntutan mundur bergema, dan episode berikutnya Gibran tersenyum di Istana.

Masalahnya, kalau skenario terlalu jelas, rakyat malas menontonnya. Sama seperti sinetron yang ketebak ending-nya: rating turun, meski kerusakan nyata tetap terjadi.

Di titik ini, Prabowo menghadapi ujian serius. Hanya berteriak “awas chaos” tak cukup. Ia harus mengendalikan aparat, penyakit kronis yang sudah lama jadi sumber luka.

Ia pun perlu semakin menunjukkan bukti berpihak pada rakyat, bukan sekadar santunan. Ia juga mesti berani memisahkan diri dari lingkaran lama, atau publik akan melihatnya sekadar perpanjangan tangan masa lalu.

Masalahnya, di negeri ini, chaos sering dituding sebagai agenda musuh, padahal kadang justru diproduksi negara sendiri. Polisi menembak gas air mata, rakyat lari pontang-panting, dan elite politik menonton sambil ngopi. Chaos jadi panggung.

Baca Juga  Bahlil Targetkan Uji Coba Tabung CNG 3 Kilogram Rampung Agustus 2026, Siap Jadi Alternatif LPG Subsidi

Namun jangan lupa: Affan Kurniawan bukan aktor. Ia korban nyata. Keluarganya kehilangan tulang punggung. Teman-temannya kehilangan kawan seperjuangan di jalanan.

Maka jika Presiden ingin bicara soal chaos, mulailah dari yang paling sederhana: hentikan rakyat mati sia-sia karena aparat gagal mengendalikan diri. Chaos bisa diskenariokan elite, tapi luka rakyat selalu nyata.

No More Posts Available.

No more pages to load.