Cerpen Karya: Ana Mairah
Malam itu aku berjalan keluar rumah menuju toko di seberang rumah, dengan jaket pink milik kak Ara yang melindungi tubuhku dari gerimis di luar serta dingin yang melanda, aku pikir hanya sebentar saja pergi ke toko jadi tidak perlu membawa payung, lagi pula hanya ampas-ampas air yang jatuh.
Setiba di dalam toko, aku langsung menghampiri barang-barang yang ingin kubeli, beberapa keperluan dan juga makanan, mie instan pastinya di cuaca sepertu ini mie instan adalah opsi terbaik untukku.
Usai melakukan pembayaran, aku pun keluar dari toko, rupanya instingku salah. Hujan deras tiba-tiba turun mengguyur bumi, aku hanya bisa berdiri di koridor toko memperhatikan deras hujan yang jatuh. Harusnya aku membawa payung. Terlintas di pikiranku untuk menghubungi kak Ara agar dia datang menjemputku dengan payung, tapi aku tersadar bukan hanya payung yang tidak kubawa, benda pipih persegi panjang itu pun aku tinggalkan di tempat tidur. Baiklah, pilihan terbaik saat ini adalah berdiri disini sampai hujannya reda.
“Hai”
Seorang pria tinggi yang tiba-tiba berdiri di depanku dengan payung merah yang melindunginya dari hujan, mataku terbelalak, dan jantungku langsung berdetak cepat.
“Kak? Kak Arga?” Aku lumayan terkejut, muncul secara tiba-tiba seperti ini sangat tidak aman bagi jantungku, untungnya aku sudah lumayan mahir mengendalikannya.
“Gak bawa payung?” Tanya Kak Arga, seniorku dulu di SMA yang juga tetanggaku sejak seminggu yang lalu.
“Iya kak” jawabku sambil mengangguk.
“Ayok, bareng Kak Arga aja. Satu payung” kata Kak Arga
“Ahh? Se-serius?” Siapa sangka laki-laki yang sudah kutaksir sejak SMA ini tiba-tiba menawarkanku untuk sepayung dengannya, aku sudah sangat hati-hati menjaga perasaan ini agar tidak ketahuan.
“Iyah, rumah kita kan bersebelahan. Lagian ini udah malam, kamu yakin nunggu disini terus?” Jawabnya, meyakinkanku. Tentu saja aku mau!
“Iya deh kak, makasih yah” kataku, dan berjalan mendekat ke sampingnya.










