Dandelion Darimu

oleh -357 views

Kini hujan pun turut menangisi kebodohanku, dia menerpa tubuh rapuh yang berulang kali kau sakiti tanpa henti. Dia mengingatkan semua kenangan yang tersimpan didalamnya tiap tetesan air.

Kulepaskan kini semuanya, kenangan yang terus saja menghantui diri tanpa niat mengasihani. Kurelakan kini kau pergi, menikmati dunia barumu yang akan kembali kau hancurkan seperti diriku. Kuikhlaskan hati, yang terbang menuruti dirimu. Karena ku tau, setiap kali ku bertanya padanya, dia hanya menjawab semua tentang dirimu.

“Apakah cinta itu?”
Kini kau bertanya padaku yang telah remuk hancur bersama satu kata yang kubenci, pelipur lara tiada menghampiri diri yang sibuk meratapi.

“Jika kujawab itu adalah kau, bisakah kau menjaga cintaku?” Kataku menatapi manik gelap yang kini bergetar. Memacu setiap debaran agar terus ada dalam dada. Kau tidak bisa menjawab bukan? Aku hanya bisa menertawai diri dalam hati. Betapa bodohnya aku bisa mencintai semua diri yang seperti ini. Kulangkahkan kaki menjauhi sang pematah hati menikmati setiap memori yang dibawakan hujan di bulan Juni.

“Aku bukan cinta itu, kenangan ini memang manis namun duniaku kini menyambut datang.”

Baca Juga  Turbulensi Menuju Kebangkitan atau Kehancuran Bangsa?

Segenggam harapan pun tak pernah kau tinggalkan, sekarang kau pergi dengan membekaskan air mata di pipi ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.