Di Simpang Dunia

oleh -24 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Indonesia belajar dari sejarah panjang — dari kolonialisme Belanda, tekanan Perang Dingin, hingga krisis finansial Asia — bahwa terlalu dekat pada satu kekuatan adalah cara tercepat untuk kehilangan kedaulatan.

Dalam bahasa yang lebih puitis, Indonesia adalah anak yang tumbuh di tengah dua raksasa yang sering bertengkar. Ia belajar satu hal penting: jangan berdiri terlalu dekat dengan salah satu, tapi pastikan keduanya tahu bahwa Anda tidak bisa diabaikan.

Masuknya Indonesia ke BRICS pada 2025 bukanlah langkah ideologis. Ini langkah matematis. Akses ke New Development Bank (awalnya BRICS Development Bank) berarti pembiayaan tanpa “ceramah panjang” ala IMF. Diversifikasi pasar berarti tidak lagi bergantung pada satu jalur dolar.

Baca Juga  Doli Usul Ambang Batas Parlemen 4–6 Persen dalam Revisi UU Pemilu

Sementara itu, kerja sama dengan Amerika membuka pintu teknologi yang tidak bisa dibeli di pasar bebas. Ini bukan kontradiksi. Ini orkestrasi.

India sudah memainkan simfoni ini lebih dulu. Ia anggota BRICS, tapi juga mitra pertahanan utama AS sejak 2016. Ia membeli minyak Rusia dengan diskon, sambil duduk manis di forum G7.

Dunia tidak runtuh. Justru India tumbuh sebagai kekuatan yang terlalu besar untuk ditekan, dan terlalu penting untuk diabaikan. Indonesia tampaknya membaca partitur yang sama — dan mulai memainkan nada-nadanya dengan percaya diri.

No More Posts Available.

No more pages to load.