Diam: Jalan Menuju Distopia

oleh -0 Dilihat

Gambaran ini tidak asing dalam fiksi-fiksi distopia seperti 1984 karya George Orwell atau Brave New World karya Aldous Huxley. Dalam dua novel tersebut, masyarakat diajarkan untuk diam, tidak berpikir kritis, dan menerima kebohongan sebagai kebenaran.

Rezim tidak perlu membungkam karena rakyat telah membungkam dirinya sendiri. Ini adalah bentuk penjinakan yang sangat halus: masyarakat dibuat jinak oleh rutinitas, disibukkan oleh hal-hal remeh, dan dilatih untuk tidak terganggu oleh penderitaan orang lain.

Fenomena ini menemukan gaungnya dalam realitas Indonesia hari ini. Tidak sedikit yang memilih diam karena trauma masa lalu, takut distigma sebagai “radikal” atau “anti-NKRI”, atau karena tidak percaya lagi bahwa suara bisa mengubah keadaan. Diam menjadi strategi bertahan hidup sekaligus pertanda mundurnya keberanian kolektif. Masyarakat dibiasakan untuk tidak reaktif, tidak kritis, dan akhirnya tidak peduli.

Baca Juga  Wali Kota Tual Susun Rencana Aksi Tiga Tahun di Lemhannas

Islam memandang diam yang pasif dan tak melahirkan amal sebagai tanda lemahnya iman. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ymaka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

No More Posts Available.

No more pages to load.