Dalam tradisi agama-agama, kedua soal ini dijelaskan sebagai: ikhtiar dan takdir. Dalam pandangan umum, keduanya ditempatkan secara berlawanan. Padahal kalau sebentar saja kita berusaha tenang, kedua hal tersebut sebenarnya tak saling membelakangi secara hitam-putih. Kita tidak diharuskan memilih salah satu di antaranya. Ataukah satunya baik sedang yang lainnya buruk. Melainkan seperti diajak bermain-main di antara dua kutub ini silih berganti. Takdir yang menjadi wilayah teologis, dan ikhtiar yang menjadi arena manusia. Dua hal yang berbeda namun saling melengkapi secara bergantian.
Kelahiran adalah peristiwa paling radikal untuk menjelaskan ikhtiar dan takdir. Kelahiran adalah siklus kerja dari dua aktor. Ia melibatkan ikhtiar sekaligus takdir. Kelahiran kita bekerja secara bilogis, tapi penghidupannya melalui peran teologis. Kelahiran adalah sintesis paling penting tentang peristiwa-peristiwa kemanusiaan sekaligus peran-peran ketuhanan.
Secara perlahan, kelahiran mengarah pada apa yang kita sebut kehidupan. Berbeda dengan kelahiran yang pekik, ramai dengan tangis, kehidupan tumbuh dalam keadaan hening, tak terasa, bahkan teramat dalam. Hampir setiap dari kita tak merasakan fase kehidupan secara sadar yang menunjukan bahwa kita sedang tumbuh. Tapi, kita menemukannya secara empiris melalui definisi-definisi biologis: semisal, perulangan usia, perubahan fisik, cara berpikir, hingga bagaimana piknik.




