Dalam kehidupan, kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan, keteguhan-keteguhan hingga kepatahan, tumbuh secara bergantian. Tak ada manusia yang kehidupannya mengutub pada salah satunya saja.
Nietzsche menuliskannya dengan baik dalam satu aforismenya dalam yang diberi judul Die frohliche Wissenschaft : La Gaya Scienza (1982:165) : “aku hanya hendak mengatakan bahwa dunia penuh dengan hal-hal indah, tetapi juga hal-hal yang tak kurang tidak indahnya. Dunia ini sangat miskin, miskin saat yang indah. Dunia ini sangat miskin, miskin saat yang indah, miskin pewahyuan yang indah seperti di atas. Tetapi mungkin justru itulah yang membuat hidup mempunyai daya tarik yang sangat kuat. Hidup ini ditutupi oleh selubung emas, artinyam diselubungi oleh berbagai kemungkinan indah yang memberinya garis tubuh, menjanjikan, penuh keraguan, sopan, ironis, membangkitkan welas asih, dan menggoda. Iya hidup adalah wanita ! (Ja das Laben ist ein Weib)”.
Pandangan Nietzsche yang melihat kehidupan secara utuh dari dua sisi: memiliki keburukan dan kebaikan sekaligus, telah menginspirasi saya untuk menerima kehidupan sebagaimana adanya.
Kehidupan tak bisa dimaui salah satunya saja. Persis seperti kelahiran. Ia adalah simbol kebaruan sekaligus pesakitan. Sebuah keterharuan yang menyimpan begitu dalam sejumlah pengharapan. Seorang ibu berharap anaknya harus lahir, sembari menahan pesakitan. Namun pengharapan jua merujuk pada penghidupan. Baik ibu maupun anaknya, keduanya sama-sama menginginkan kehidupan.




