Persis di titik ini, penjelas penting tentang makna “rahim” tak bisa kita temukan dalam definisi yang sangat bilogis. Rahim adalah definisi penting dari “pertemuan antara kemurahan (Rahman) dan kasih sayang (Rahim)”. Ar Rahman, Ar Rahim.
Penerimaan yang lapang atas dua momen kehidupan: keburukan dan kebaikan, kehancuran dan keteguhan, kebenaran dan kesalahan, telah membawa saya untuk memeluk penghidupan sebagai kelahiran yang berulang.
Bagiku, dalam hidup keseharian, semuanya seperti lahir kembali. Entah apapun itu. Kreatifitas dan kejatuhan, cinta dan luka, imajinasi dan kebuntuan, bahkan kemudahan hingga kesulitan. Masing-masing kemudian hadir dan bersisian untuk diterima, ditanggung sekaligus dicintai secara bersamaan. Tak ada cinta sepihak pada salah satu diantara keduanya. Amor fati, semoga inilah cintaku !. Kata Nietzsche, saat menggambarkan penerimaannya yang dalam pada kehidupan.
Kita tak bisa berdiri pada satu peristiwa tragis saja seperti digambarkan Schopenhauer untuk memperoleh makna kehidupan. Je souffre, donc je suis (aku menderita, maka aku ada). Atau anutan Victor Frankl yang bersikeras bahwa “hanya penderitaanlah yang menghasilkan makna bagi kehidupan”. Kita bisa berpindah pada temali hidup lain yang terang, logis, dan optimis seperti Descartes, je pense, donc je suis (aku berpikir maka aku ada). Atau keyakinan credo ergo sum (aku curiga maka aku ada) yang menjadi kunci filsafat Nietzsche.




