Dalam takaran-takaran tertentu, kedua persisian tersebut menghadirkan pembilahan tegas tentang ruang dimana manusia hidup (arena) dan dirinya sendiri sebagai manusia (ego). Dosa dan pahala, surge dan neraka, suci dan bejat adalah akibat-akibat yang dihasilkan oleh dua pembilahan atas kehidupan: kebahagiaan dan penderitaan. Manusia lalu berada dalam dua pemilahan yang merepresentasikan kondisi dasar kehidupan. Pemilahan yang kemudian, cukup banyak menentukan cara seseorang membangun perkenalan-perkenalan dengan orang lain.
Perkenalan-perkenalan adalah ramifikasi yang lebih luas dari kejahatan, dosa, kesucian, kebahagian bahkan luka. Kehidupan telah meluaskan semua hal itu dengan orang lain maupun semesta. Kita dapat berbagi kebahagiaan dan penderitaan dengan siapa saja, dengan semesta yang mana saja. Tentu dengan pemaknaan yang beda-beda. Makna-makna atas kehidupan pada gilirannya membentuk kutub-kutub sosial baru seperti, agama, komunitas, hingga keluarga untuk dipegang oleh manusia. Tapi ingat, kutub-kutub sosial ini juga tak memuat salah satu dari sisi kehidupan saja. Taka da agama, komunitas hingga keluarga yang negatif saja. Pun sebaliknya.
Dalam skala yang lebih luas, kehidupan telah mengilhami kita pada perkenalan-perkenalan hingga pilihan. Perkenalan dengan orang lain menegaskan keberadaan dan posisi kita, sekaligus membedakan identitas kita dengan orang lain. Sedangkan, pilihan memberi kita kebebasan untuk bertindak. Memilih yang terbaik diantara sederet pilihan yang jelek hingga baik. Jika gagal, akan selalu ada pilihan lain untuk memilih lagi. Seperti ucapan Eric Barker yang mengutip ulang W.C Fields, dalam Barking Up the Wrong Tree (2019:108) : “jika pada awalnya anda tidak berhasil, coba lagi, coba lagi, lalu menyerah. Tidak ada gunanya menjadi orang yang betul-betul dungu untuk perkara itu”.




