Oleh: Ardiman Kelihu, Mahasiswa Pascasarjana UGM Yogyakarta
Toust est bien, dites-vous, et tout est necessaire, “katamu semuanya baik-baik, dan semuanya perlu”. Voltaire menulis dalam satirenya, Candide (1759). Les malheurs particuliers font le bien général; de sorte que plus il y a de malheurs particuliers et plus tout est bien. Bahwa, “kemalangan seseorang umumnya adalah kebaikan, sehingga semakin banyak kemalangan, dianggap semakin baik”. Lanjutnya dengan sinis pada bagian satire yang lain. Ia berucap dengan penuh sanksi terhadap mereka yang menganggap, penderitaan dan tindakan paling menyiksa sekalipun, selalu bermaksud baik.
Para filsuf yang berada di barisan ini misalnya Leibnitz, Frankl, Schopenhauer, atau Pizzaro. Mereka fokus untuk meneguk makna dari penderitaan. Protes Voltaire an-sich tertuju pada mereka yang menerima takdir dan kehancuran begitu saja sebagai kebaikan. Seolah manusia lahir ke muka bumi hanya untuk menanggung segala jenis penderitaan. Tak berdaya, lalu berupaya menerimanya dengan mudah dengan segala alasan sebagai kebaikan.
Semua orang dalam lekuk kehidupannya telah mengalami apa yang diucapkan Voltaire. Berada pada posisi antara. Apakah menerima ataukah menolak. Tatkala kehancuran dan derita terjadi begitu saja. Beberapa orang menolak derita dan melakukan penelusuran logis atas setiap sebab yang terjadi. Beberapa lagi, menyerahkannya begitu saja. Seolah penderitaan adalah selubung tepat bagi kebaikan.




