Di Antara Kebisingan-Kebisingan

oleh -83 views
Link Banner

Oleh: Ardiman Kelihu, Mahasiswa Pascasarjana UGM Yogyakarta

Toust est bien, dites-vous, et tout est necessaire, “katamu semuanya baik-baik, dan semuanya perlu”. Voltaire menulis dalam satirenya, Candide (1759). Les malheurs particuliers font le bien général; de sorte que plus il y a de malheurs particuliers et plus tout est bien. Bahwa, “kemalangan seseorang umumnya adalah kebaikan, sehingga semakin banyak kemalangan, dianggap semakin baik”. Lanjutnya dengan sinis pada bagian satire yang lain. Ia berucap dengan penuh sanksi terhadap mereka yang menganggap, penderitaan dan tindakan paling menyiksa sekalipun, selalu bermaksud baik.

Para filsuf yang berada di barisan ini misalnya Leibnitz, Frankl, Schopenhauer, atau Pizzaro. Mereka fokus untuk meneguk makna dari penderitaan. Protes Voltaire an-sich tertuju pada mereka yang menerima takdir dan kehancuran begitu saja sebagai kebaikan. Seolah manusia lahir ke muka bumi hanya untuk menanggung segala jenis penderitaan. Tak berdaya, lalu berupaya menerimanya dengan mudah dengan segala alasan sebagai kebaikan.

Semua orang dalam lekuk kehidupannya telah mengalami apa yang diucapkan Voltaire. Berada pada posisi antara. Apakah menerima ataukah menolak. Tatkala kehancuran dan derita terjadi begitu saja. Beberapa orang menolak derita dan melakukan penelusuran logis atas setiap sebab yang terjadi. Beberapa lagi, menyerahkannya begitu saja. Seolah penderitaan adalah selubung tepat bagi kebaikan.

Dalam tradisi agama-agama, kedua soal ini dijelaskan sebagai: ikhtiar dan takdir. Dalam pandangan umum, keduanya ditempatkan secara berlawanan. Padahal kalau sebentar saja kita berusaha tenang, kedua hal tersebut sebenarnya tak saling membelakangi secara hitam-putih. Kita tidak diharuskan memilih salah satu di antaranya. Ataukah satunya baik sedang yang lainnya buruk. Melainkan seperti diajak bermain-main di antara dua kutub ini silih berganti. Takdir yang menjadi wilayah teologis, dan ikhtiar yang menjadi arena manusia. Dua hal yang berbeda namun saling melengkapi secara bergantian.

Kelahiran adalah peristiwa paling radikal untuk menjelaskan ikhtiar dan takdir. Kelahiran adalah siklus kerja dari dua aktor. Ia melibatkan ikhtiar sekaligus takdir. Kelahiran kita bekerja secara bilogis, tapi penghidupannya melalui peran teologis. Kelahiran adalah sintesis paling penting tentang peristiwa-peristiwa kemanusiaan sekaligus peran-peran ketuhanan.

Secara perlahan, kelahiran mengarah pada apa yang kita sebut kehidupan. Berbeda dengan kelahiran yang pekik, ramai dengan tangis, kehidupan tumbuh dalam keadaan hening, tak terasa, bahkan teramat dalam. Hampir setiap dari kita tak merasakan fase kehidupan secara sadar yang menunjukan bahwa kita sedang tumbuh. Tapi, kita menemukannya secara empiris melalui definisi-definisi biologis: semisal, perulangan usia, perubahan fisik, cara berpikir, hingga bagaimana piknik.

Dalam kehidupan, kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan, keteguhan-keteguhan hingga kepatahan, tumbuh secara bergantian. Tak ada manusia yang kehidupannya mengutub pada salah satunya saja.

Nietzsche menuliskannya dengan baik dalam satu aforismenya dalam yang diberi judul Die frohliche Wissenschaft : La Gaya Scienza (1982:165) : “aku hanya hendak mengatakan bahwa dunia penuh dengan hal-hal indah, tetapi juga hal-hal yang tak kurang tidak indahnya. Dunia ini sangat miskin, miskin saat yang indah. Dunia ini sangat miskin, miskin saat yang indah, miskin pewahyuan yang indah seperti di atas. Tetapi mungkin justru itulah yang membuat hidup mempunyai daya tarik yang sangat kuat. Hidup ini ditutupi oleh selubung emas, artinyam diselubungi oleh berbagai kemungkinan indah yang memberinya garis tubuh, menjanjikan, penuh keraguan, sopan, ironis, membangkitkan welas asih, dan menggoda. Iya hidup adalah wanita ! (Ja das Laben ist ein Weib)”.

Pandangan Nietzsche yang melihat kehidupan secara utuh dari dua sisi: memiliki keburukan dan kebaikan sekaligus, telah menginspirasi saya untuk menerima kehidupan sebagaimana adanya.

Baca Juga  Sukses Gelar Desa Tangguh Nusantara, Pemkot Beri Penghargaan untuk Polresta Ambon

Kehidupan tak bisa dimaui salah satunya saja. Persis seperti kelahiran. Ia adalah simbol kebaruan sekaligus pesakitan. Sebuah keterharuan yang menyimpan begitu dalam sejumlah pengharapan. Seorang ibu berharap anaknya harus lahir, sembari menahan pesakitan. Namun pengharapan jua merujuk pada penghidupan. Baik ibu maupun anaknya, keduanya sama-sama menginginkan kehidupan.

Persis di titik ini, penjelas penting tentang makna “rahim” tak bisa kita temukan dalam definisi yang sangat bilogis. Rahim adalah definisi penting dari “pertemuan antara kemurahan (Rahman) dan kasih sayang (Rahim)”. Ar Rahman, Ar Rahim.

Penerimaan yang lapang atas dua momen kehidupan: keburukan dan kebaikan, kehancuran dan keteguhan, kebenaran dan kesalahan, telah membawa saya untuk memeluk penghidupan sebagai kelahiran yang berulang.

Bagiku, dalam hidup keseharian, semuanya seperti lahir kembali. Entah apapun itu. Kreatifitas dan kejatuhan, cinta dan luka, imajinasi dan kebuntuan, bahkan kemudahan hingga kesulitan. Masing-masing kemudian hadir dan bersisian untuk diterima, ditanggung sekaligus dicintai secara bersamaan. Tak ada cinta sepihak pada salah satu diantara keduanya. Amor fatisemoga inilah cintaku !. Kata Nietzsche, saat menggambarkan penerimaannya yang dalam pada kehidupan.

Kita tak bisa berdiri pada satu peristiwa tragis saja seperti digambarkan Schopenhauer untuk memperoleh makna kehidupan. Je souffre, donc je suis (aku menderita, maka aku ada). Atau anutan Victor Frankl yang bersikeras bahwa “hanya penderitaanlah yang menghasilkan makna bagi kehidupan”. Kita bisa berpindah pada temali hidup lain yang terang, logis, dan optimis seperti Descartes, je pense, donc je suis (aku berpikir maka aku ada). Atau keyakinan credo ergo sum (aku curiga maka aku ada) yang menjadi kunci filsafat Nietzsche.

Penerimaan atas dua sisi kehidupan mengajak kita untuk melihat lebih jauh, lebih lengkap dan lebih dalam semua sisi kehidupan. Tak ada yang dilewatkan ataupun ditolak dengan emosi apalagi pelarian. Sehingga, konsep mendalam dari kehidupan adalah: ia tak sekadar dijalani secara sadar, melainkan dimaknai secara terus menerus dalam terang pencarian. Diselami dengan dalam, meskipun kadang beriringan dengan sederet kejutan.

Kiasan ini bisa kita temukan kaitannya dalam potongan karya Franz Kamphaus, berjudul Weltblick (2004:18). Iamenasihati dengan baik, “siapa percaya, dia melihat dan menembus jauh. Siapa berdoa, dia tak tinggal berdiri di depan cermin—berhenti pada dirinya dan puas mengagumi wajahnya. Ia melihat lebih jauh , melampaui dirinya”.

Persisian Makna dan Perkenalan-Perkenalan

Meski kehidupan datang sebagai kejutan, ia mesti diterima secara lapang. Makna-makna disusun karena kehidupan punya dua sisi tadi. Penderitaan dan Kebahagiaan. Keduanya tak hadir begitu saja melainkan didorong oleh situasi-situasi yang saling mengisi. Persis seperti energi dalam rumusan hukum termodinamika pertama a la Perscott Joula: “energi tak dapat diciptakan atau dihilangkan, melainkan dapat dirubah dari suatu bentuk ke bentuk lain”. Kehidupan berpindah dari satu penderitaan ke kebahagiaan-kebahagiaan yang lain, dari satu kebahagiaan ke penderitaan-penderitaan lain–yang kehadirannya tentu disusun oleh kondisi-kondisi tertentu. Baik yang bisa kita ciptakan ataukah berada dalam kendali kita. Singkatnya tak ada bahagia dan derita yang hadir begitu saja.

Dalam takaran-takaran tertentu, kedua persisian tersebut menghadirkan pembilahan tegas tentang ruang dimana manusia hidup (arena) dan dirinya sendiri sebagai manusia (ego). Dosa dan pahala, surge dan neraka, suci dan bejat adalah akibat-akibat yang dihasilkan oleh dua pembilahan atas kehidupan: kebahagiaan dan penderitaan. Manusia lalu berada dalam dua pemilahan yang merepresentasikan kondisi dasar kehidupan. Pemilahan yang kemudian, cukup banyak menentukan cara seseorang membangun perkenalan-perkenalan dengan orang lain.

Baca Juga  Sehari sebelum Pembukaan TMMD Ke-110, Dandim 1503/Tual Tinjau Lokasi Sasaran Fisik

Perkenalan-perkenalan adalah ramifikasi yang lebih luas dari kejahatan, dosa, kesucian, kebahagian bahkan luka. Kehidupan telah meluaskan semua hal itu dengan orang lain maupun semesta. Kita dapat berbagi kebahagiaan dan penderitaan dengan siapa saja, dengan semesta yang mana saja. Tentu dengan pemaknaan yang beda-beda. Makna-makna atas kehidupan pada gilirannya membentuk kutub-kutub sosial baru seperti, agama, komunitas, hingga keluarga untuk dipegang oleh manusia. Tapi ingat, kutub-kutub sosial ini juga tak memuat salah satu dari sisi kehidupan saja. Taka da agama, komunitas hingga keluarga yang negatif saja. Pun sebaliknya.

Dalam skala yang lebih luas, kehidupan telah mengilhami kita pada perkenalan-perkenalan hingga pilihan. Perkenalan dengan orang lain menegaskan keberadaan dan posisi kita, sekaligus membedakan identitas kita dengan orang lain. Sedangkan, pilihan memberi kita kebebasan untuk bertindak. Memilih yang terbaik diantara sederet pilihan yang jelek hingga baik. Jika gagal, akan selalu ada pilihan lain untuk memilih lagi. Seperti ucapan Eric Barker yang mengutip ulang W.C Fields, dalam Barking Up the Wrong Tree (2019:108) : “jika pada awalnya anda tidak berhasil, coba lagi, coba lagi, lalu menyerah. Tidak ada gunanya menjadi orang yang betul-betul dungu untuk perkara itu”.

Selain pilihan, perkenalan-perkenalan menyodorkan kita sebuah relasi hidup. Tanpa adanya orang lain, kita tak mungkin hidup. Berbalik dengan Sartre yang menekankan pada diri pribadi sebagai subjek yang eksisten, atau Kierkegard yang menaruh eksistensi secara teosofik pada hubungan manusia dengan Tuhan (Ultim). Ialah Jasper, seorang pemikir eksitensialis Prancis, yang tiba pada argumen, “diri orang lain adalah diri kita yang lain”. Ungkapan yang menyirat sebuah kesan tentang eksistensi manusia dan kehidupannya melalui hubungannya dengan orang lain.

Derrida menyebutnya sebagai constituve outside. Sebuah terminologi yang merujuk pada pembentukan identitas diri “kita”, secara tidak langsung membentuk “identitas orang lain” (differance). “Kita” (we) menjadi eksis karena berutang pada kehadiran “mereka” (they).

Perkenalan-perkenalan pada orang lain turut memberi warning untuk tidak memuja
kehidupan sebagai milik pribadi. Melainkan sebuah arena berbagi yang melibatkan orang lain. Saya terkadang bingung dan sanksi bagi beberapa orang yang menemukan makna hidupnya pada kepentingan pribadinya saja.

Lalu menganggap yang lain (liyan) sebagai yang asing. Seolah hanya dia yang mengalami derita, bahagia, luka dan cinta serupa, sedang yang lain tidak. Pada titik ini ucapan Yuval Noah Harari tentang kebodohan dalam 21 Lessons for 21st Century juga patut dipikirkan (2018:193). Bahwa :  “satu obat potensial untuk kebodohan manusia adalah sedosis kerendah hatian“.

Kerendahan untuk mengakui yang lain sebagai subjek yang sedang “mengada” (sedang berproses dan hidup) bersama-sama dengan kita. Kita tak berada sendiri dan tumbuh tanpa bersisian dengan orang lain. Kita justru sedang berbagi kelahiran, kematian dan kehidupan dengan orang lain.

Kriteria-kriteria penghidupan tentang yang baik dan yang buruk, pada akhirnya mengharuskan melarung segala kesendirian agar bergabung dengan orang lain. Baik melalui penderitaan, kebahagiaan, ataupun kerapuhan. Kita bisa berbagi derita misalnya dengan luka yang dirasa oleh orang lain. Kita menamakan ini sebagai simpati, bahkan dalam skala paling dalam sebagai empati. Kita juga berbagi bahagia dengan cinta yang dirasa orang lain. Kita menamakan ini sebagai keterharuan, kebersamaan, kegembiraan bahkan pelajaran.

Baca Juga  Laznas LMI dan Polisi Kolaborasi Perbaiki Akses Jalan Longsor Sulawesi Barat

Dalam pilihan-pilihan dan perkenalan ini, sebagai manusia kita terus tumbuh dalam fase kehidupan yang terus menjadi. Kita tidak fix untuk tumbuh sebagai orang bodoh saja, orang pintar saja, orang suci saja, orang bejat saja, melainkan melenggang diantara dua tegangan-tegangan itu tanpa henti.

Dahulu, sekitar tahun 2015, saya sempat menyebut proses semacam  dengan mengatakan menyebut kehidupan yang dijalani “manusia sebagai relatifitas yang menyejarah”. Sebuah proses ke-menjadi-an yang menempatkan setiap orang dalam proses menjadi dirinya secara terus menerus. Mereka mengayuh diantara perubahan-perubahan yang distempel sebagai sebuah keabadian.

Dalam Kratylos (402a), Platon pernah menulis dialog lama tentang kehidupan yang relatif antara Heraclitos dan Socrates. Ia menulis seperti ini : “Socrates : Heraclitos  says, you know, that all things move and nothing remains stills, and he likens, the universe to the current of a river, saying that you cannot step twico into the same stream”. Semua dari kehidupan ini sementara bergerak dalam proses menjadi, berubah dan tak ada yang menetap. Hoti  panta chorei kai ouden menei.

Kehidupan yang terus berubah, pilihan-pilihan yang dibuat, dan perkenalan-perkenalan yang luas, telah mengantarkan kita pada sebuah kebebasan sekaligus ketergantungan. Kebebasan memberi kita untuk keleluasaan untuk mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita.

Sementara ketergantungan mengajarkan kita tentang batas-batas kemampuan yang kita bisa dan tidak. Misalnya kehidupan kita hari ini adalah hasil dari pilihan-pilihan kita di masa sebelumnya. Sehingga kita berhak membuat keputusan dan visi kehidupan berdasarkan kebebasan yang kita punya. Tapi pada sisi lain kita tidak bisa mengubah keputusan-keputusan yang berada diluar kemampuan kita.

Dua persoalan yang digambarkan Epictetus dalam Enchiridion. Sebuah karya yang terbit pada Anno Domini  125 (Abad 125 Setelah Masehi). Epictetus menulis “some things are up to us, some things are not up to us”. Bahwa, ada hal-hal yang berada dalam kendali kita (tergantung kita), tapi beberapa hal tidak dalam kendali (tidak bergantung) pada kita.Sebuah pelajaran tentang pentingnya menempatkan kemampuan, batasan-batasannya serta memaklumi kemampuan orang lain.

Pemakluman terhadap kemampuan orang lain adalah kerendahan hati untuk berjejaring, saling belajar, dan berupaya untuk mendengarkan dengan lebih banyak. Metafora paling tempat untuk segala jenis penerimaan ini adalah ungkapan hikmah tentang “keharusan menjadi” dari Maulana Jalaludin Rumi. Bahwa : “Dalam hal kedermawanan dan menolong, jadilah sungai. Ia mengalir dan tak mengharap kembali. “Dalam kasih sayang dan berkah jadilan seperti matahari”. Memberi kehangatan pada siapa saja. “Dalam hal menutupi aib, jadilah seperti malam”.

Gelap dan menutupi pandangan. “Dalam hal marah, jadilah seperti orang mati”.
Cara paling baik untuk mengendalikan diri adalah diam. “Dalam hal kesederhanaan dan kerendahan hati jadilah seperti bumi”. Meski menghidupkan namun tetap berada dibawah langit. “Dalam hal toleransi, jadilah seperti laut”. Lapang, titik tuju dari segala sungai dan mata air yang mengalir. Lalu menampung segala yang berbeda dalam keterluasannya. (*)