Di Antara Kebisingan-Kebisingan

oleh -22 Dilihat

Selain pilihan, perkenalan-perkenalan menyodorkan kita sebuah relasi hidup. Tanpa adanya orang lain, kita tak mungkin hidup. Berbalik dengan Sartre yang menekankan pada diri pribadi sebagai subjek yang eksisten, atau Kierkegard yang menaruh eksistensi secara teosofik pada hubungan manusia dengan Tuhan (Ultim). Ialah Jasper, seorang pemikir eksitensialis Prancis, yang tiba pada argumen, “diri orang lain adalah diri kita yang lain”. Ungkapan yang menyirat sebuah kesan tentang eksistensi manusia dan kehidupannya melalui hubungannya dengan orang lain.

Derrida menyebutnya sebagai constituve outside. Sebuah terminologi yang merujuk pada pembentukan identitas diri “kita”, secara tidak langsung membentuk “identitas orang lain” (differance). “Kita” (we) menjadi eksis karena berutang pada kehadiran “mereka” (they).

Perkenalan-perkenalan pada orang lain turut memberi warning untuk tidak memuja
kehidupan sebagai milik pribadi. Melainkan sebuah arena berbagi yang melibatkan orang lain. Saya terkadang bingung dan sanksi bagi beberapa orang yang menemukan makna hidupnya pada kepentingan pribadinya saja.

Baca Juga  Ketua TP PKK Maluku Dorong Kopi Tuni Jadi Ikon Daerah, UMKM Binaan PLN Tembus Pasar Internasional

Lalu menganggap yang lain (liyan) sebagai yang asing. Seolah hanya dia yang mengalami derita, bahagia, luka dan cinta serupa, sedang yang lain tidak. Pada titik ini ucapan Yuval Noah Harari tentang kebodohan dalam 21 Lessons for 21st Century juga patut dipikirkan (2018:193). Bahwa :  “satu obat potensial untuk kebodohan manusia adalah sedosis kerendah hatian“.