Kerendahan untuk mengakui yang lain sebagai subjek yang sedang “mengada” (sedang berproses dan hidup) bersama-sama dengan kita. Kita tak berada sendiri dan tumbuh tanpa bersisian dengan orang lain. Kita justru sedang berbagi kelahiran, kematian dan kehidupan dengan orang lain.
Kriteria-kriteria penghidupan tentang yang baik dan yang buruk, pada akhirnya mengharuskan melarung segala kesendirian agar bergabung dengan orang lain. Baik melalui penderitaan, kebahagiaan, ataupun kerapuhan. Kita bisa berbagi derita misalnya dengan luka yang dirasa oleh orang lain. Kita menamakan ini sebagai simpati, bahkan dalam skala paling dalam sebagai empati. Kita juga berbagi bahagia dengan cinta yang dirasa orang lain. Kita menamakan ini sebagai keterharuan, kebersamaan, kegembiraan bahkan pelajaran.
Dalam pilihan-pilihan dan perkenalan ini, sebagai manusia kita terus tumbuh dalam fase kehidupan yang terus menjadi. Kita tidak fix untuk tumbuh sebagai orang bodoh saja, orang pintar saja, orang suci saja, orang bejat saja, melainkan melenggang diantara dua tegangan-tegangan itu tanpa henti.
Dahulu, sekitar tahun 2015, saya sempat menyebut proses semacam dengan mengatakan menyebut kehidupan yang dijalani “manusia sebagai relatifitas yang menyejarah”. Sebuah proses ke-menjadi-an yang menempatkan setiap orang dalam proses menjadi dirinya secara terus menerus. Mereka mengayuh diantara perubahan-perubahan yang distempel sebagai sebuah keabadian.




