Diinisiasi Abdullah Tuasikal, KKP Gelar Pelatihan Budidaya Ikan Sistem Bioflok di Ambon

oleh -45 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Provinsi Maluku menjadi salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Indonesia. Tak heran jika pemerintah menetapkan Provinsi Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN), yang ditargetkan akan dibangun pada akhir tahun 2021. Guna mendukung hal tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) menggelar kegiatan Pelatihan Aspirasi Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok, yang dilaksanakan selama dua hari pada 23-24 Agustus 2021.

Diinisiasi oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Abdullah Tuasikal, kegiatan pelatihan ini menjadi perhatian pemerintah pusat dalam rangka meningkatkan budidaya ikan air tawar. Budidaya ikan nila sangat penting terutama menerapkan metode bioflok dengan keuntungan padat tebar lebih banyak dengan pengelolaan lebih efisien dalam jangka panjang. Dalam hal ini ia menyampaikan, Provinsi Maluku juga disebut sebagai Lumbung Ikan Nasional dalam pemanfaatan potensi perikanan yang berkelanjutan.

“Adanya kegiatan ini merupakan pemanfaatan potensi perikanan berkelanjutan dan diharapkan dapat memenuhi konsumsi masyarakat. Salah satu tahapan pokok LIN adalah peningkatan kapasitas SDM yang kompeten, dengan harapan masyarakat Maluku menjadi pemain utama sektor perikanan bukan penonton. Untuk itu, budidaya ini perlu dilakukan guna mendukung Maluku sebagai LIN,” ujarnya.

LIN merupakan kawasan penghasil produksi ikan secara berkelanjutan yang diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat sebagai wujud kebijakan ketahanan pangan, dan merupakan pusat pertumbuhan ekonomi perikanan nasional. LIN bertujuan untuk menjamin ketersediaan stok sumber daya ikan yang berkelanjutan, mewujudkan peningkatan ekonomi negara, daerah, dan masyarakat, serta mewujudkan pengelolaan kelautan dan perikanan yang efektif dan efisien.

Ditemui secara terpisah, Plt. Kepala BRSDM KP, Kusdiantoro menyampaikan, kegiatan pelatihan ini digelar untuk mendukung program LIN yang ditargetkan akan selesai pada tahun 2023 mendatang.

Baca Juga  Ngeri! Jokowi Diprediksi Wariskan Utang Rp10.000 Triliun ke Presiden Terpilih 2024

“Pelatihan masyarakat ditujukan untuk menyediakan SDM yang berpengetahuan dan terampil, baik secara teknis perikanan maupun manajerial. Harapannya, ketersediaan SDM terampil tersebut akan mengisi kebijakan LIN. Masyarakat terampil menjadi sebuah investasi untuk Pemda Maluku, sehingga keberadaan LIN dirasakan manfaatnya untuk masyarakat setempat,” jelas Kusdiantoro.

Difasilitasi oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Ambon, kegiatan pelatihan ini diikuti sebanyak 100 peserta dari 11 kelompok yang berasal dari Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, dan Kabupaten Buru. Peserta pelatihan, terbagi di 10 titik dengan rincian 60 orang berada di Kabupaten Maluku Tengah, 30 orang berada di Kota Ambon, dan 10 orang berada di Kabupatem Buru. Kegiatan ini, didampingi oleh penyuluh perikanan di lokasi masing-masing secara blended learning dengan menerapkan protokol kesehatan.

Pada Pelatihan Aspirasi Budidaya Ikan Nila ini, menggunakan teknologi bioflok karena memiliki banyak keuntungan dalam budidaya ikan khususnya ikan nila. Hal ini, karena prinsip teknologi bioflok memiliki pengontrolan nitrogen anorganik melalui penambahan karbon organik yang akan meningkatkan rasio Carbon (C) atau Nitrogen (N) perairan untuk menumbuhkan bakteri heterotrof. Biomassa bakteri heterotrof kemudian akan membentuk flok bersama dengan mikroba lain.

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP), Lilly Aprilya Pregiwati menyampaikan, ikan nila merupakan salah satu komoditas unggulan dengan tingkat kebutuhan pasar yang terus meningkat. Teknologi bioflok dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan produksi sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Baca Juga  Kisah 'Song for Gaza' dan Kiprah Pengarangnya

“Teknologi bioflok menjadi pilihan tepat untuk ikan nila karena budidaya ikan nila sistem bioflok memiliki sejumlah keunggulan, seperti meningkatkan kelangsungan hidup (survival rate/SR) hingga lebih dari 90 persen dan tanpa pergantian air. Pembesaran budidaya ikan nila ini, dengan adanya tambahan bakteri probiotik nantinya akan mengatur bagaimana limbah yang dikeluarkan oleh ikan dapat menjaga kualitas airnya. Air bekas budidaya juga tidak berbau, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar dan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman misalnya sayur-sayuran dan buah-buahan. ,” ujar Lilly.

“Keuntungan lain dari teknologi bioflok ini adalah bagaimana padat tebar dari ikan nila, yang dipelihara di lokasi yang sama bisa ditingkatkan,” tambahnya.

Pada kesempatan ini, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, Abdul Haris, mengapresiasi adanya kegiatan pelatihan ini. Ia menyampaikan pelatihan ini, dapat menjamin keberlanjutan usaha perikanan budidaya yang ramah lingkungan di Maluku dan berterima kasih dengan bantuan paket yang diberikan untuk para pembudidaya.

“Saya mengapresiasi dan berterima kasih kepada BPPP Ambon dan juga Anggota Komisi IV DPR RI, yang telah memberikan bantuan bagi kelompok budidaya sebanyak 4 paket tersebar di Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Buru, dan Kota Ambon. Saya berharap, pelatihan ini tidak berhenti disini dan dapat berlanjut,” jelas Abdul Haris.

“Karena dengan sistem bioflok ini, memberikan keuntungan lebih bagi masyarakat sekaligus menjamin keberlanjutan usaha perikanan budidaya yang ramah lingkungan,” tambahnya.

Tidak hanya itu, kegiatan ini juga mendapat respon baik dari Siti Robiah, salah satu peserta yang berasal dari kelompok budidaya Fish Garden . Ia mengatakan, pelatihan ini merupakan kegiatan yang memang sangat ditunggu-tunggu para pembudidaya.

Baca Juga  Asah Skill Kejahatan Siber, Kasi Intel Kejari Halsel Ambil Sertifikasi CHFI

“Saya berterima kasih karena pelatihan ini memang satu hal yang sangat kami tunggu, terutama untuk pengetahuan bagi kelompok kami yang memang masih awam. Kami akan mengapikasikan dan mengembangkan ke masyarakat dan kelompok sehingga menjadi mata pencaharian bagi masyarakat dan kelompok,” jelasnya.

Adanya pelatihan ini, diharapkan para pelaku utama dengan mudah mengimplementasikan kegiatan ini dan dapat menjadi peluang usaha untuk meningkatkan pendapatan secara mandiri. Selain untuk mendukung program prioritas KKP juga sebagai bentuk dukungan program Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional, dalam mewujudkan peningkatan ekonomi negara, daerah, dan masyarakat.

Sebagai informasi, kebutuhan utama pada awal budidaya adalah ketersediaannya pakan alami. Guna mendukung hal tersebut, KKP melalui BRSDM KP juga menggelar kegiatan Pelatihan Budidaya Cacing Sutra (Tubifex) Tanpa Menggunakan Media Lumpur pada Selasa (24/8/2021). Difasilitasi oleh BPPP Medan, pelatihan ini diikuti sebanyak 550 peserta yang berasal dari 34 Provinsi di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan secara full online .

Cacing sutra menjadi salah satu pakan alami yang banyak digunakan oleh para pembenih ikan hias dan konsumsi. Pakan alami yang sering disebut cacing sutra ini, sangat disukai oleh benih yang diberikan dalam keadaan masih segar.

Melalui kegiatan pelatihan ini, diharapkan para pelaku utama budidaya dapat terus survive meskipun dalam situasi pandemi Covid-19. Pelatihan ini juga bertujuan untuk menekan biaya produksi budidaya yang didominasi biaya operasional pakan.

(red/kontan)