“Dan dibagi antara Ormas Maluku yang ada di Jakarta, antara lain ormas mana berbuat apa dan dimana, semua itu dilakukan dengan baik dan diupdate dalam file kami. Jadi tolong Kapolda Maluku jangan meremehkan dan melecehkan apa yang telah kami lakukan selama ini, karena semua itu demi kemanusiaan, walaupun kami sangat sadari sungguh bahwa apa yang kami lakukan belumlah sebanding dengan apa yang diharapkan masyarakat,” tukasnya.
Koedoeboen menegaskan, rencana pertemuan pihaknya dengan Kapolda Maluku bukan untuk meminta perlakuan khusus terhadap anaknya, karena dia paham dan sangat mengerti bahwa apa yang telah diputuskan timsel Taruna Akpol tidak mungkin dimentahkan kembali oleh Kapolda.
“Silahkan tanyakan kepada para Kapolda Maluku sebelumnya, bahwa apakah dalam silaturahmi kami dengan beliau-beliau, adakah maksud dan tujuan pribadi yang kami sampaikan? Hal itu tidak pernah terjadi,” imbuh mantan Ketua DPD KNPI Malra itu.
“Bahwa bila berbicara terkait seleksi Taruna Akpol tahun 2023, memang faktanya ada orang luar yang bukan orang Maluku yang setiap tahun ikut seleksi di Maluku. Kalau memang aturannya dua tahun domisili KTP dan KKnya, maka kita hormati itu. Namun coba kita liat siapa nama Kepala Keluarga di KK itu dan apakah itu nama orang tuanya atau nama walinya, kan mudah dideteksi kog. Hanya saja yang ingin kami soroti adalah kejujuran dan hati nurani kita bersama termasuk bapak Kapolda yang juga adalah orang tua kita,” imbuhnya.









