Porostimur.com, Ambon – Anggota Komisi II DPR RI Muhammad Khozin, menyoroti masih rendahnya penyaluran kredit produktif oleh bank milik daerah (BUMD), termasuk Bank Maluku dan Maluku Utara. Kondisi ini dinilai belum sejalan dengan tujuan utama pendirian BUMD sebagai penggerak ekonomi lokal.
Pernyataan tersebut disampaikan Khozin dalam agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi II DPR RI di Kantor Bank Maluku Malut, Kota Ambon, Kamis (16/4/2026).
“Secara filosofi, orientasi utama BUMD bukan sekadar laba, tetapi bagaimana kehadirannya mampu memperkuat ekosistem ekonomi daerah,” tegas Khozin.
Kredit Konsumtif Dominan, UMKM Terancam Terpinggirkan
Khozin mengungkapkan adanya anomali dalam praktik perbankan daerah, di mana porsi kredit konsumtif justru jauh lebih dominan dibandingkan kredit produktif.
Berdasarkan temuan di lapangan, sekitar 85 persen penyaluran kredit masih bersifat konsumtif, sementara kredit modal kerja dan investasi untuk sektor produktif tidak mencapai 15 persen.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan sektor usaha mikro, kecil, dan koperasi (UMKM), yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
“Kalau porsi kredit produktif kecil, maka UMKM sulit berkembang. Padahal mereka inilah yang harus diperkuat,” ujarnya.









