Risiko NPL Bukan Alasan
Khozin mengakui bahwa peningkatan kredit produktif memang memiliki risiko terhadap kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Namun, ia menegaskan hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan fungsi strategis BUMD.
“Ini bukan hambatan, tetapi tantangan bagi direksi dan komisaris untuk menekan risiko tanpa mengorbankan peran BUMD dalam mendorong ekonomi produktif,” katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan BUMD tidak hanya diukur dari besarnya laba, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan pemberdayaan pelaku usaha lokal.
Jangan Bergantung pada Pemerintah
Dalam kesempatan itu, Khozin juga menyoroti adanya kecenderungan ketergantungan bank daerah terhadap dukungan pemerintah, seperti pengelolaan gaji ASN, transaksi keuangan daerah, hingga penyertaan modal.
Menurutnya, keunggulan tersebut seharusnya menjadi peluang untuk memperkuat ekspansi bisnis, bukan justru menimbulkan ketergantungan.
“Ketergantungan yang tinggi terhadap pemerintah justru dapat menghambat kemandirian dan kesehatan bisnis perbankan daerah,” tegasnya.
Waspadai Intervensi Politik
Selain itu, Khozin mengingatkan potensi intervensi politik dalam pengelolaan BUMD yang dapat berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan.
Ia menegaskan, pengelolaan BUMD harus dilakukan secara profesional, transparan, dan bebas dari kepentingan politik praktis.









