Dramaturgi di Panggung Sastra

oleh -397 views

Semua ini terjadi karena panggung sastra di negeri ini adalah panggung yang sangat terbuka, sebuah paradigma yang paling tidak paradigmatis. Panggung sastra adalah panggung yang tak membutukah level dan struktur yang kuat, hanya perlu akting yang memadai. Dan Ja Rittop yang tak pernah mengenal sastra mengalami shock ketika masuk ke dalam dunia sastra setelag dia bertemu dengan para pemikir di negeri ini yang sebagian besar mengawali karier di dunia sastra. Orang-orang yang dia kagumi pemikirannya bisa didekatinya dengan mudah, diajak ngobrol ngalor ngidul khas pergaulan para sastrawan yang selalu punya panggung dramaturgi.

Polemik di kalangan sastrawan, meskipun terkesan keras dan tajam, itu hanya terjadi di panggung resmi seperti diskusi atau media. Di panggung kehidupan sehari-hari, para sastrawan yang berpolemik itu sering ngopi bareng, bercanda. Tertawa bersama. Tapi, jika polemik terjadi lagi, mereka akan berdebat dan seakan-akan akan saling menghabisi bila bertemu. Tapi, tidak, belum pernah ada sastrawan yang setikaman usai berpolemik. Kecuali di lampung, sastrawan sering memantik permusuhan fisik setiap kali usai berpolemik.

Baca Juga  Politikus Demokrat Sebut Kesepakatan AS-Iran sebagai Kekalahan Telak Trump

Panggung sastra itu diminati oleh orang-orang yang rak pernah mengenal sastra menjadi panggung dirinya. Dia hanya perlu diwisuda sebagai sastrawan, dan caranya mudah. Hanya perlu menerbitkan buku sastra (meskipun bukan karya sastra), lalu teriak sebagai sastrawan dan menggelar seminar sastra. Bila perlu, menyewa sastrawan lain untuk menabalkan diri kita sebagai sastrawan. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.