Dua Syarat AS Ditolak dan Iran di “Atas Angin”

oleh -126 views

Oleh: KH. Aguk Irawan Mn, Pengasuh Ponpes Kreatif RUHI Yogyakarta

Tak ada berita baik dari Pakistan sampai hari ke 5, sejak kesepakatan gencatan senjata, dan saat itu Trump menyetujui 10 syarat yang diajukan Iran. JD Vance, Wakil Presiden AS dan Steve Witkoff, pulang dengan tangan hampa. Tidak ada jabat tangan yang hangat dari Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran dan Abbas Araghchi.

Kini, yang ada hanyalah sebuah pesan tegas dari Teheran: Kedaulatan tidak untuk ditawar. Dua tuntutan AS—pemindahan uranium ke luar negeri dan pembukaan kembali Selat Hormuz—ditolak mentah-mentah oleh Iran. Penolakan ini bukan sekadar defiance (pembangkangan) biasa, tetapi ini adalah psywar berat, sebab Iran sadar mereka datang ke Pakistan bukan sebagai pemohon, melainkan sebagai pemenang.

Baca Juga  Investigasi El Pais: Lebih dari 3.000 Anak Jadi Korban Pelecehan di Gereja Katolik Spanyol

Di sinilah adu strategi AS nampak “kedodoran”. Pentagon mungkin salah langkah. Nyatanya, mereka lebih membutuhkan negosiasi ini daripada Iran, anehnya AS masih saja memilih menjadi “pelayan” agenda Israel daripada mengutamakan stabilitas nasionalnya sendiri. Dari hari ke hari gelombang demo di Washington makin membesar.

Bayangkan, 17 pangkalan militernya dilaporkan hancur. 41 hari Selat Hormuz tertutup. 41 hari pula diplomasi AS gagal membuka jalur nadi energi dunia itu. Ini bukan sekadar kegagalan taktis, melainkan tamparan keras geopolitik. Saat AS memaksa uranium Iran “dibuang” keluar, Iran menjawabnya dengan diam: garis merah itu tetaplah merah! Tidak ada opsi lain. Iran menempatkan posisi mereka di atas angin (upper hand).

No More Posts Available.

No more pages to load.