Empat Puisi Oliena Ibrahim

oleh -19 views
Link Banner

Empat Rupa

Yang menyala lebih  kobar daripada api. Lebih meredakan daripada air.

1/

Telapak tangan terbuka menghadap wajah, sepuluh jari menengadah: “Oh, hamba yang begini simpuh, saksi tiada keagungan lebih agung darimu.”

2/

Berbalik,  menghadap tanah. Ini tangan tolak bala: “Kembalilah dari murka ke murka.”

3/

Mengeratkan tangan kiri dan kanan. Telah kukuh berpuluh-peluh. Di atas sajadah, dimasaknya doa: “Tuhan, tidaklah tubuh ini hanya seonggok daging yang menunggu, merangsek jadi debu.”

4/

Tangan itu lebih dekat dengan mulutnya: “Bau melati, bunyi katrol di sebelah dinding, dan sebuah lonceng. Bismillah… bersihkan tubuhku dan lewati jalan menuju sumur itu.”

Ibu, kurasakan seseorang dalam kepalaku.

Baca Juga  Jelang Belanda vs Wales, Louis van Gaal Beri Ultimatum untuk Memphis Depay

“Dia: kematian yang mencintaimu, Nak.”

Seram Selatan, April 2020

=======

Mayat

1/

Pagi putih

Seorang perempuan memenggal kepala

Meletakkannya di tungku

Mayat-mayat berjalan tanpa kepala

2/

Lelaki itu membawa sajadah

Melangkah masuk ke lorong-lorong

Bertemu mayat-mayat tanpa kepala

3/

Malam telah matang

Keduanya saling membunuh dengan cinta yang berlarat-larat

Seram Selatan, April 2020

========

Merobek Tubuh Puisi

Aku ingin merobek tubuh puisi

Yang menggigil di jiwa-jiwa yang sepi

Lalu kubiarkan tangan siapa pun

Merogoh jantungnya yang hampir kehilangan degup

Biar tercecer segala luka

segala lebam

Jika puisi adalah anak-anak yang lahir dari rahim yang berdarah-darah

Dari juang cinta yang bengal

Baca Juga  KPK Menduga Uang Korupsi PT DI Mengalir ke Istana Negara

Mampukah kita menjadi orangtua yang baik baginya?

Aku ingin merobek tubuh puisi

Mengeluarkan seluruh di dalamnya

Janji-janji, kata-kata manis yang perlahan membakar dirinya yang sesungguhnya

Pada jalan-jalan penuh sukacita pula bahaya

Aku melihat puisi tumbuh besar bersama suara-suara bergema

Lawan! Lawan! Lawan!

Tapi, bukankah puisi tetaplah puisi?

Sekali waktu ia akan mati.

Yogyakarta, 28 November 2020.

=========

Gelombang

Membuncah di dadanya

Lautan tanpa tepi

Ia, nakhoda mahir membaca peta

Tetapi kehilangan arah

Wakatobi, 1 September 2020.


Oliena Ibrahim, nama pena Indah Sari Ibrahim. Empat puisinya pernah diterbitkan di Jawa Pos dan sejumlah media lain. Salah satu esainya diterbitkan dalam Antologi Esai Sio Ina (2019), dan bisa dihubungi melalui olienaibrahim@gmail.com.

No More Posts Available.

No more pages to load.