Empat Rupa
Yang menyala lebih kobar daripada api. Lebih meredakan daripada air.
1/
Telapak tangan terbuka menghadap wajah, sepuluh jari menengadah: “Oh, hamba yang begini simpuh, saksi tiada keagungan lebih agung darimu.”
2/
Berbalik, menghadap tanah. Ini tangan tolak bala: “Kembalilah dari murka ke murka.”
3/
Mengeratkan tangan kiri dan kanan. Telah kukuh berpuluh-peluh. Di atas sajadah, dimasaknya doa: “Tuhan, tidaklah tubuh ini hanya seonggok daging yang menunggu, merangsek jadi debu.”
4/
Tangan itu lebih dekat dengan mulutnya: “Bau melati, bunyi katrol di sebelah dinding, dan sebuah lonceng. Bismillah… bersihkan tubuhku dan lewati jalan menuju sumur itu.”
Ibu, kurasakan seseorang dalam kepalaku.
“Dia: kematian yang mencintaimu, Nak.”
Seram Selatan, April 2020
=======
Mayat
1/
Pagi putih
Seorang perempuan memenggal kepala
Meletakkannya di tungku
Mayat-mayat berjalan tanpa kepala
2/
Lelaki itu membawa sajadah
Melangkah masuk ke lorong-lorong
Bertemu mayat-mayat tanpa kepala
3/
Malam telah matang
Keduanya saling membunuh dengan cinta yang berlarat-larat
Seram Selatan, April 2020
========
Merobek Tubuh Puisi
Aku ingin merobek tubuh puisi
Yang menggigil di jiwa-jiwa yang sepi
Lalu kubiarkan tangan siapa pun
Merogoh jantungnya yang hampir kehilangan degup










