Empat Puisi Oliena Ibrahim

oleh -276 views

Empat Rupa

Yang menyala lebih  kobar daripada api. Lebih meredakan daripada air.

1/

Telapak tangan terbuka menghadap wajah, sepuluh jari menengadah: “Oh, hamba yang begini simpuh, saksi tiada keagungan lebih agung darimu.”

2/

Berbalik,  menghadap tanah. Ini tangan tolak bala: “Kembalilah dari murka ke murka.”

3/

Mengeratkan tangan kiri dan kanan. Telah kukuh berpuluh-peluh. Di atas sajadah, dimasaknya doa: “Tuhan, tidaklah tubuh ini hanya seonggok daging yang menunggu, merangsek jadi debu.”

4/

Tangan itu lebih dekat dengan mulutnya: “Bau melati, bunyi katrol di sebelah dinding, dan sebuah lonceng. Bismillah… bersihkan tubuhku dan lewati jalan menuju sumur itu.”

Ibu, kurasakan seseorang dalam kepalaku.

Baca Juga  Kukuhkan 97 Wisudawan, IAKN Ambon Tegaskan Komitmen Cetak SDM Unggul

“Dia: kematian yang mencintaimu, Nak.”

Seram Selatan, April 2020

=======

Mayat

1/

Pagi putih

Seorang perempuan memenggal kepala

Meletakkannya di tungku

Mayat-mayat berjalan tanpa kepala

2/

Lelaki itu membawa sajadah

Melangkah masuk ke lorong-lorong

Bertemu mayat-mayat tanpa kepala

3/

Malam telah matang

Keduanya saling membunuh dengan cinta yang berlarat-larat

Seram Selatan, April 2020

========

Merobek Tubuh Puisi

Aku ingin merobek tubuh puisi

Yang menggigil di jiwa-jiwa yang sepi

Lalu kubiarkan tangan siapa pun

Merogoh jantungnya yang hampir kehilangan degup

No More Posts Available.

No more pages to load.