Mengikhlaskan Dirimu

oleh -11 views
Link Banner

Cerpen Karya: Seli Oktavia

HARI itu adalah hari yang paling membuatku hancur. Hari dimana aku kehilangan dirimu untuk selamanya. Dan aku harus mampu mengikhlaskan dirimu, meskipun hatiku tak mampu melakukannya.

Cincin emas putih melingkar di jariku. Cincin polos, simple dan bertuliskan namamu dan namaku dibaliknya. Aku setiap akan tidur selalu memandangi cincin itu, begitu indah terkena sinar lampu. Aku tahu sekarang sudah ada ikatan diantara kita, meskipun baru sekedar tunangan. Tapi itu merupakan tanggung jawab terbesarku menjaga cinta ini agar sampai pada kursi pelaminan.

Benar saja kata orang, cobaan orang yang akan menikah akan lebih banyak dan lebih berat daripada saat masih berpacaran. Dan kini aku merasakannya. Aku merasakan sikapnya padaku menjadi berbeda dan aneh. Saat aku dan dia sedang makan malam bersama, tiba-tiba handphone dia berdering. Ada yang meneleponnya. Dia sekilas menatap layar handphone, lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Aku terima telfon dulu ya” ucapnya.
“Emang dari siapa?” Tanyaku.
“Temen kantor” jawabnya. Ia pun berjalan menjauh dari meja yang kami tempati.

Aku merasa aneh dengan sikapnya saat itu. Dari dulu, sewaktu awal berpacaran sampai sekarang dia sewaktu menerima telefon tidak pernah menerimanya dengan menjauh dariku. Tapi kini, dia menerimanya dengan menjauh dariku. Aneh sekali.

Keanehan demi keanehan satu persatu terlihat darinya membuatku penasaran, kenapa dia menjadi berubah tidak seperti yang aku kenal. Aku menaruh curiga ada sesuatu yang terjadi padanya.

Suatu hari saat aku main ke rumahnya, dia menaruh handphonenya di meja sedangkan dia pergi ke toilet. Karena penasaranku akan perubahan sikapnya, aku pun memberanikan diri membuka aplikasi mengirim pesan di handphonenya. Sebenarnya selama ini aku tidak berani membuka handphonenya, karena aku sadar aku belum menjadi yang berhak untuknya. Aku membukanya, ada kontak bernama Michelle di aplikasinya. Aku segera membuka isi pesannya. Aku membaca perlahan dan hati hati. Mataku membelalak saat membacanya, mereka mengirim pesan dengan menggunakan sapaan sayang pada masing masing. Dadaku sesak, seperti ada yang membara didalamnya. Jadi, ini yang membuat sikapnya berubah?. Aku akan segera mengonfirmasikannya dan akan meminta penjelasan darinya.

Baca Juga  Gerakan Pemuda Marhaenis Malut Gelar Dialog Publik Bahas Pertambangan

“Siapa Michelle?” Tanyaku, saat kami berada di resto diatas rooftop setelah dari rumahnya. Dia terlihat amat terkejut.
“Da..darimana kamu tau?” Tanyanya dengan tergagap seperti maling yang ketahuan sedang maling.
“Ngga penting aku tahu darimana. Kamu tinggal jawab aja” ucapku menatapnya tajam.
“Dia temen kantorku” ucapnya.
“Temen kantor tapi pake panggilan sayang?, apa itu pantas?” Tanyaku. Dia menatapku.
“Di satu sisi aku tunangan kamu. Kamu dengan entengnya deket sama temen kantor kamu, kamu anggap aku ini apa?” Ucapku sedikit emosional. Nafasku naik turun, dadaku sesak menahan kepedihan yang ku rasakan.
“Dia hanya temen kantorku” ucapnya.
“Aku udah tau semuanya, maaf aku lancang buka handphone kamu. Aku baca semuanya.” Ucapku dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf..” ucapnya singkat sambil menunduk sepertinya dia mengakui ada sesuatu antara dia dengan teman kantornya itu. Aku geram.

“Hubungan kita udah mau serius. Kita udah tunangan. Kenapa kamu ngelakuin hal menjijikan seperti ini?.” Ucapku menggebu-gebu. Dia diam sambil menatapku. Aku menangis, dia memberikan tisu namun aku menolaknya dengan kasar. Aku marah, aku kesal, aku ingin berteriak. Kenapa dia melakukan semua ini?.

Semenjak hari itu, aku lost contact dengannya. Sengaja aku menghilang. Aku tak mau berurusan dengannya lagi. Memang benar kata orang, cobaan orang yang akan menikah semakin banyak dan kompleks. Aku kini merasakannya. Ingin rasanya aku membuang cincin yang melingkar di jariku ini. Tapi sebaiknya aku mengembalikan cincin ini padanya, setidaknya benda ini dibeli dengan materi yang mati-matian ia cari.

Sebulan semenjak hari itu aku mengunjungi rumahnya. Aku hanya disambut ibunya, sedangkan ayahnya sudah tiada.
“Reza sedang di kamarnya nak, sebentar ibu panggilkan. Kamu duduk dulu ya” ucap ibunya ramah sekali padaku.

10 menit kemudian dia muncul ke ruang tamu, terkejut melihatku datang. Tatapan mata kami bertemu diudara. Wajahnya terlihat sedikit pucat dan badannya terlihat lebih kurus. Dia kemudian duduk di dekatku, aku menjaga jarak berpindah sejengkal. Dia diam saja.

“Aku kesini mau ngembaliin cincin yang sudah kamu kasih dulu.” Ucapku lalu menaruh cincin itu pada telapak tanganku lalu menyodorkannya pada dia. Dia menatap cincin itu, lalu menatapku. Agak lama.
“Aku nggak mau, itu buat kamu saja.” Ucapnya.
“Nggak, ini kamu beli pakai uang kamu. Aku udah ngga ada hak apa apa lagi.” Ucapku. Dia menggeleng.
“Buat kamu saja. Biar suatu saat kamu inget aku yang pernah jadi tunanganmu.” Ucapnya, lalu bibirnya sedikit tersenyum. Mataku berkaca-kaca, kemudian air mata mengalir di pipi. Aku terisak menangis di hadapannya.

Baca Juga  Hadiri Pelantikan DPRT NasDem 3 Kecamatan di Ternate, Malik Ibrahim Tekankan Pentingnya Kepemimpinan Politik

Sejujurnya, aku sangat berat menghadapi kenyataan ini. Aku dan tunanganku kandas ditengah jalan. Sangat menyakitkan bagiku. Aku bergegas memeluknya. Dia agak terkejut, namun akhirnya menyambut pelukanku. Aku menangis dipelukannya.
“Semoga kamu dapet yang lebih baik dari aku, yang bisa lebih membahagiakanmu. Maaf aku udah bikin semuanya hancur, aku cuma pengen kamu bahagia..” ucapnya. Aku tak terlalu memperhatikan ucapannya. Dia mengelus rambutku. Tangisku semakin keras.

Sebulan setelah kejadian itu, aku mendapat kabar kalau dia sakit dan sedang dirawat di rumah sakit. Aku segera menjenguknya. Disana ada ibunya dan kakaknya yang menjaga disamping ranjangnya. Saat aku membuka pintu, aku melihat tubuhnya terbaring di ranjang. Aku segera menghambur ke samping ranjangnya. Aku menangis sambil menggenggam erat tangannya yang kini sangat kurus bagai tulang yang berbalut kulit saja. Ibunya menenangkanku, kakaknya menghela nafas panjang karena sesak melihatku menangisi adiknya.

Setelah tenang aku diajak keluar ruangan sebentar oleh ibunya. Kami duduk di bangku taman.
Tangisku yang tadinya reda segera kembali mengeras saat ibunya memberitahuku perihal penyakit yang diderita olehnya.
“Reza punya penyakit langka di jantungnya sejak kecil. Penyakit jantung bawaan. Dia tumbuh dewasa adalah sebuah anugerah bagi ibu. Bisa melihatnya tumbuh menjadi lelaki gagah dan bisa diandalkan adalah sebuah keajaiban. Dokter pun yang menangani Reza dari kecil, sampai terheran dan merasa takjub Reza bisa bertahan sampai detik ini. Tapi, tiga bulan terakhir kondisi jantungnya kembali melemah dan dia bisa kapan saja mengalami henti detak jantung. Dia bercerita mengenai hubungan kalian, bahwa dia telah melamarmu meskipun belum mengenalkan ibu dengan keluargamu. Tetapi sebulan setelah dia melamarmu, penyakitnya itu kembali menyerang. Dia menyusun rencana bila hal buruk terjadi padanya sewaktu-waktu. Dia membiarkan kamu berfikir bahwa dia berselingkuh dengan teman kantornya, dia merancang semuanya dengan rapi seperti sangat nyata hingga kamu percaya dan meninggalkannya. Percayalah, itu semua rancangan Reza agar kamu menjauh dan melupakan Reza lebih cepat. Reza tidak mau kamu terluka bila suatu saat kejadian tak terduga terjadi padanya. Maaf ibu baru bisa menceritakannya sekarang nak..” Ibunya bercerita panjang.

Baca Juga  Gracie Abrams Rekrut Aaron Dessner Dari The National Dalam ‘Rockland’

Aku menangis deras. Aku begitu syok mendengar kenyataan dari ibunya, tidak menyangka semua ini terjadi. Aku terlalu gegabah mengambil keputusan. Aku telah menyakiti dia, walaupun mungkin ini yang diharapkan olehnya. Jika aku tahu semua hal ini, tak pernah sesenti pun aku melepaskan cincin darinya. Aku akan mendampinginya sampai kapanpun.

Aku bangkit lalu berlari menuju ruangan tempat dia dirawat. Aku memeluknya erat, menangis deras berharap dia membuka matanya dan mendengar permintaan maafku. Kakaknya melihatku menangis, ikut menyeka ujung matanya yang basah.
“Kenapa kamu tidak menceritakan keadaanmu padaku? Kenapa?” Tanyaku setengah berteriak. Dia tetap tak sadarkan diri.

Seminggu kemudian
Selama seminggu ini aku selalu rajin menjenguknya. Aku selalu menatap tubuhnya yang terbaring lemah itu, berharap dia bangun dan melihatku ada disampingnya. Pada hari ke tiga, dia sempat sadar dan melihatku. Aku menangis penuh haru.

“Kenapa kamu tidak menceritakan semua yang terjadi?.” Tanyaku sesenggukan menahan tangis.
“Maaf..” ucapnya dengan suara lirih.
“Aku yang harusnya meminta maaf padamu.. maafkan aku yang tidak mengetahui keadaanmu.” Ucapku, air mataku kembali mengalir. Tangannya bergerak menghapus air mata di pipiku, dengan lembut penuh perasaan.

Hari berikutnya, kondisi tubuhnya menurun. Jantungnya tak bekerja normal. Hingga pada suatu saat, jantungnya tiba tiba berhenti berdetak. Aku begitu cemas, pikiranku sudah kemana-mana. Dokter segera bekerja untuk mengembalikan detak jantungnya. Hasilnya nihil. Dia telah meninggal dunia.

Aku menangis sejadi-jadinya. Luruh bagai daun yang jatuh dari tangkainya. Aku telah kehilangannya. Aku kehilangan separuh hatiku. Aku harus mengikhlaskan segala kehendak Tuhan, meskipun aku tak mampu mengikhlaskan kepergiannya. Selamat jalan Reza, kelak nanti semoga Tuhan berbaik hati mempertemukan kita kembali.

Tamat

No More Posts Available.

No more pages to load.