Empat Puisi Wirol Haurissa

oleh -448 views

MA(N)YAU

beginilah memandang
gamalama delapan tahun berlalu
sebuah puisi dibacakan
di antara batu-batu teras
berbunga hijau.

udara terbentang di tanah
tuhan meletakan jemarinya
sejuk seperti air laut batang dua
angin meniup ke utara
bunga-bunga mekar di atap rumah

awan-awan tergantung seperti permen.
aku pikir semua orang merasakannya, manis.

dan saat malam begini
pelayaran kembali bersama angin sepoi-sepoi.
sampai mayau, air biru kembali dibawa ombak. berirama.

Ternate, 26 September 2021

======

KENANGAN

bila sudah malam. aku memikirkan lampu-lampu di sebuah pulau seperti bintang-bintang di udara yang dingin.
seorang anak belum selesai menulis di jari-jarinya tentang pohon-pohon yang bercabang ke langit. tentang sinar bulan menumpang duduk di pantai menunggu pagi. tentang pangkuan dan rangkulan, sebuah petunjuk bagi orang dewasa untuk mengasihi.

Ambon, 20 September 2021

========

Baca Juga  Prioritaskan Keselamatan Warga, PUPR Halsel Tambal 10 Segmen Jalan Berlubang di Labuha

ULANG TAHUN

perayaan ulang tahun atau tidak, tidak ada hubungannya dengan kue dan tiup lilin. aku hanya ingin berlari sepanjang pagi, sambil mengingat matahari menata ruang cahaya dengan adil ke semua tempat, permainan, kejar-kejaran dan tertawa. ini nyata dalam belaskasih tuhan yang melompat ke pelukanku dan aku menangkapnya. dan aku berpikir bahwa bertahun-tahun hidup tidak dapat hilang begitu saja. aku punya foto dan punya fakta; dalam iman, aku tidak mencintainya dengan melihat, karena aku di dalamnya seribu catatan kebaikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.