Empat Puisi Yanni Tuanaya

oleh -89 views

Ini Pukul Delapan

Saat mata mulai terbangun dari pembaringan
Ada kata yang tak sempat terucap;
Kekasihku tidurlah di peluk ini!

Begitu debar antara kicau-risau detak kalimat
Kamu hidup dalam dunia sederhana ini
Menjadi satu metafora cantik
Yang selalu ombak di laut rindu

Kekasihku
Ini pukul delapan
Dan aku masih gelagapan
Barangkali badai tak bisa tenang
Sebab hati sedang senang mengenang

Atas hiruk pikuk gelombang yang engkau titip
Pada nyanyian fajar-senja yang membentang
Ada riwayat yang masih hangat
Ada alamat yang masih ku ingat

Dari balik tirai angin pantai
Atau rasi bintang yang memenuhi langit malam
Serta bunyi kendaraan yang pulang-pergi
Kamu bukan lagi noktah di satu hari
Melainkan cerita yang sedang di perbincangkan puisi-puisiku
Yang setiap malam membubuhkan lebam di mayapada

Baca Juga  DPR RI Dorong Bank Maluku Malut Jadi Pilar Kemandirian Fiskal Daerah

2020

========

Udara di sini Bersuara

Udara di sini bersuara
Bernyanyi tentang keresahan daun-daun
Juga seseduan dahan yang mengeriput
Terbawa angin sebagai yang gugur
Adalah romansa di sendu mata sore

Kita telah tua dan asing di halaman rumah orang
Juga menjadi teman cerita sepi di pojok kursi taman
Dan di mana tempat kaki-kaki pejalan berdesakkan pulang menuju rumah
Debu menyinggapi

Udara di sini bersuara
Saat langit mulai menumpahkan ceritanya yang resah di atas pohon dan rumput
Terjadi percakapan dersik
Siapa yang menembus cadas terlebih dahulu
Ternyata kita adalah angin dan hujan
Yang akar itu rindu