Empat Puisi Yanni Tuanaya

oleh -28 views
Link Banner

Ini Pukul Delapan

Saat mata mulai terbangun dari pembaringan
Ada kata yang tak sempat terucap;
Kekasihku tidurlah di peluk ini!

Begitu debar antara kicau-risau detak kalimat
Kamu hidup dalam dunia sederhana ini
Menjadi satu metafora cantik
Yang selalu ombak di laut rindu

Kekasihku
Ini pukul delapan
Dan aku masih gelagapan
Barangkali badai tak bisa tenang
Sebab hati sedang senang mengenang

Atas hiruk pikuk gelombang yang engkau titip
Pada nyanyian fajar-senja yang membentang
Ada riwayat yang masih hangat
Ada alamat yang masih ku ingat

Dari balik tirai angin pantai
Atau rasi bintang yang memenuhi langit malam
Serta bunyi kendaraan yang pulang-pergi
Kamu bukan lagi noktah di satu hari
Melainkan cerita yang sedang di perbincangkan puisi-puisiku
Yang setiap malam membubuhkan lebam di mayapada

2020

========

Udara di sini Bersuara

Udara di sini bersuara
Bernyanyi tentang keresahan daun-daun
Juga seseduan dahan yang mengeriput
Terbawa angin sebagai yang gugur
Adalah romansa di sendu mata sore

Baca Juga  Momen Natal, Wagub Maluku Berbagi Kasih Dengan Anak-Anak Panti Asuhan dan Penyandang Disabilitas

Kita telah tua dan asing di halaman rumah orang
Juga menjadi teman cerita sepi di pojok kursi taman
Dan di mana tempat kaki-kaki pejalan berdesakkan pulang menuju rumah
Debu menyinggapi

Udara di sini bersuara
Saat langit mulai menumpahkan ceritanya yang resah di atas pohon dan rumput
Terjadi percakapan dersik
Siapa yang menembus cadas terlebih dahulu
Ternyata kita adalah angin dan hujan
Yang akar itu rindu

Harap-harap kita pun meluap
Bersedekap di atas dada yang pilu
Tak luput pada mendung yang siap pasang
Di pipi itu, kata-kata sering hening
Rindu sering basah

2020

====

Lupa III

Mungkin kita telah lupa
Pada hari yang sempat membasuh luka
Pada puisi yang membawa pulang
Pada rindu yang bermuara di dada

Baca Juga  Malam Takbiran, Warga Tanah Goyang Gelar Pawai Seribu Obor

Mungkin kita telah lupa
Bahwa cerita kita telah kehilangan peluk
Bahwa pagi pernah sehangat dekap di ruang tamu
Bahwa semuanya tak pernah segelap malam

Sederhananya mungkin kita telah lupa
Pada aku
Pada kamu
Yang pernah menggebu-gebu menulis cerita di sayap-sayap malam

Sederhananya mungkin kita telah lupa
Di bagian mana pernah membubuhkan kecup
Di hari apa pernah menjadi yang paling rindu
Di hati siapa semua itu tertuju
Cair lalu kembali membeku

2020

======

Puisi Untuk Bang [……]

Bagaimana?

Setelah rindu yang kau tata dengan baik hari ini, bagaimana kalau besok kita berjumpa lagi? Bagaimana kalau besok aku berada di sampingmu? Bagaimana kalau besok aku memberimu kecup di alis setelah bangun pagi? Bagaimana kalau aku memberimu peluk pada secangkir kopi? Bagaimana kalau itu aku? Bagaimana kalau besok, besok dan besok aku mencintaimu?

Baca Juga  Jumlah Pasien Covid-19 di Maluku Utara Jadi 54 Kasus

Lihatlah betapa aku tak begitu ingin ini menjadi candu. Namun perasaanku telah jatuh ketika mata kita menjalin tatap di halaman taman sore itu. Ada yang rapuh; itu rindu yang ku asuh. Ada yang makin bergemuruh; barangkali itu bunyi hati yang telah luruh.

Sungguh!
Tidak ada sesiapa yang akan memilih patah hati dari cinta yang pernah begitu sungguh membuatnya memekik diam-diam menahan rindu. Namun jika nanti itu terjadi, percayalah aku telah siap lagi menjadi perempuan paling tabah yang menjahit luka dengan benang yang bening air mata. Ah sial!

2020

=====