Empat Puisi Yanni Tuanaya

oleh -92 views

Harap-harap kita pun meluap
Bersedekap di atas dada yang pilu
Tak luput pada mendung yang siap pasang
Di pipi itu, kata-kata sering hening
Rindu sering basah

2020

====

Lupa III

Mungkin kita telah lupa
Pada hari yang sempat membasuh luka
Pada puisi yang membawa pulang
Pada rindu yang bermuara di dada

Mungkin kita telah lupa
Bahwa cerita kita telah kehilangan peluk
Bahwa pagi pernah sehangat dekap di ruang tamu
Bahwa semuanya tak pernah segelap malam

Sederhananya mungkin kita telah lupa
Pada aku
Pada kamu
Yang pernah menggebu-gebu menulis cerita di sayap-sayap malam

Sederhananya mungkin kita telah lupa
Di bagian mana pernah membubuhkan kecup
Di hari apa pernah menjadi yang paling rindu
Di hati siapa semua itu tertuju
Cair lalu kembali membeku

2020

======

Baca Juga  Gencatan Senjata Iran-Israel (AS) Hari ke 9: Keangkuhan AS "Melawan" Keteguhan Iran

Puisi Untuk Bang [……]

Bagaimana?

Setelah rindu yang kau tata dengan baik hari ini, bagaimana kalau besok kita berjumpa lagi? Bagaimana kalau besok aku berada di sampingmu? Bagaimana kalau besok aku memberimu kecup di alis setelah bangun pagi? Bagaimana kalau aku memberimu peluk pada secangkir kopi? Bagaimana kalau itu aku? Bagaimana kalau besok, besok dan besok aku mencintaimu?

Lihatlah betapa aku tak begitu ingin ini menjadi candu. Namun perasaanku telah jatuh ketika mata kita menjalin tatap di halaman taman sore itu. Ada yang rapuh; itu rindu yang ku asuh. Ada yang makin bergemuruh; barangkali itu bunyi hati yang telah luruh.