Lagu MBG bekerja pada level afektif, bukan rasional. Ia tidak menawarkan argumentasi, tetapi menghadirkan rasa. Ia tidak mengajak berpikir, tetapi mengajak merasakan. Dan di situlah letak kekuatannya. Dalam kerangka Elaboration Likelihood Model (ELM), lagu ini bergerak melalui jalur periferal—mempengaruhi publik bukan lewat logika, melainkan melalui emosi, repetisi, dan daya tarik simbolik.
Ketika publik terus-menerus terpapar pada narasi “ganteng”, “adem”, dan “idaman”, maka yang terbentuk bukan sekadar opini, melainkan asosiasi psikologis. Sosok politik menjadi terasa dekat, familiar, bahkan menyenangkan. Ia tidak lagi berada di menara kekuasaan, tetapi hadir di layar ponsel, di antara tarian TikTok dan guliran Instagram.
Algoritma sebagai Mesin Propaganda Baru
Media sosial bukan ruang netral. Ia adalah ekosistem yang digerakkan oleh algoritma—mesin tak kasat mata yang menentukan apa yang kita lihat, dengar, dan ulangi. Lagu MBG menjadi viral bukan hanya karena ia catchy, tetapi karena ia kompatibel dengan logika algoritma: singkat, repetitif, emosional, dan mudah direplikasi.
Dalam konteks ini, propaganda tidak lagi hadir dalam bentuk pidato panjang atau baliho raksasa. Ia menjelma menjadi konten ringan yang menghibur. Seperti yang dikatakan oleh Marshall McLuhan, “the medium is the message”—dan hari ini, mediumnya adalah video pendek berdurasi 15 detik.





