Di masa ini, para pedagang Sumatera, Jawa, Bugis, Maluku termasuk Cina dan Arab telah mencapai Fakfak. Mereka tidak saja berdagang tetapi juga berdakwah. Fakta ini diperkuat dengan catatan perjalanan ( Al-Rihlah) Ibnu Batutah, seorang pengelana asal Maroko yang singgah di Aceh sebelum melawat ke Cina pada tahun 1345 (abad ke-14), menyebutkan terdapat negeri di belahan timur tempat matahari terbit yang penduduknya telah beragama Islam bernama Waqwaq.
Catatan para ahli sejarah itu menunjukkan bahwa pulau Papua dikenal tidak lain karena hasil rempah pala yang ada di jazirah Onin ini. Posisi strategis Fakfak pada abad ke-15 hingga abad ke-19 menjadi salah satu sumbu dari poros segitiga utama perdagangan rempah di timur Nusantara, Yaitu Banda, Ternate-Tidore (di kepulauan Maluku) dan Fakfak di Tanah Papua. Kawasan segitiga ini di masa lalu merupakan kawasan persemakmuran ( al-ma’mûrah/oikumene/commonwealth) yang mestinya saat ini dihidupkan kembali secara teknokratik sebagai Jalur Rempah. Dalam konteks otonomi daerah adalah kerjasama daerah yang memacu pertumbuhan antar kawasan di Jalur Rempah.
Khasiat dan Tragedi
Sebagai salah satu rempah unggulan Nusantara, pala menjadi salah satu komoditas utama di era kolonialisme Eropa. Terdapat 5 jenis pala yang tumbuh di Indonesia, Myristica fragran (Banda), M. argentha Warb (Papua), M. scheffer Warb (pala hutan di Papua), M. speciose (Bacan), M. succanea (Halmahera). Daerah penghasil pala di Indonesia adalah Kepulauan Maluku, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, NAD, Jawa Barat dan Papua. Indonesia termasuk negara pengeskspor pala sebesar 60-70 persen dunia, sisanya adalah Grenada, India, Srilanka dan Papua Nugini. Malaysia dan Vietnam dalam kurun dua puluh tahun terakhir malah menjadi pengekspor pala bersama Indonesia, India, Srilanka dan Grenada. Sedangkan negara yang berhasil mengekspor hasil olahan pala adalah Belanda, Italia, Amerika dan Jerman.











