Tanaman pala yang ada di kabupaten Fakfak yang masih berupa hutan pala yang tumbuh secara alami. Perlu peremajaan berskala besar untuk mendukung proses hilirisasi pala. Pengembangan sektor perkebunan pala berorientasi industri itu tentu mempertimbangkan prinsip pelestarian lingkungan hidup dan konservasi. Wilayah ini juga berdekatan dengan kawasan industri di Teluk Bintuni, dimana ketersediaan tenaga kerja di kabupaten Fakfak akan makin terbatas karena sebagian terserap ke sektor industri. Bagaimana menciptakan sumberdaya manusia yang akan berperan di sektor perkebunan pala merupakan tugas pemerintah daerah untuk diseriusi.
Penyiapan kelembagaan, pelatihan dan pendampingan pada tahap panen dan pasca panen serta pemasaran dan manajemen menjadi satu kesatuan guna mendukung pengelolaan tanaman pala yang berkelanjutan. Bukan zamannya lagi kebiasaan “ganti bupati, ganti kebijakan,” karena industri pengolahan pala harus ditekuni secara terus-menerus sebagai core pembangunan di kabupaten Fakfak. Alasannya karena inilah kearifan lokal masyarakat Fakfak. Sejak lama mereka hidup dengan pala. Mereka pergi menunaikan ibadah haji pun dengan uang pala.
Saat ini pemerintah sedang menggalakan program “Indonesia Spice-up the World” (ISUTW). Yaitu suatu program internasionalisasi rempah Nusantara. Sebuah terobosan pembangunan yang membutuhkan kolaborasi Pusat-Daerah. Partisipasi kabupaten Fakfak di dalam program ISUTW menjadi salah satu bagian dari titik Jalur Rempah dunia yang akan diusulkan ke UNESCO pada tahun 2024. Dengan keaktifan itu, Kabupaten Fakfak akan membuat lompatan pembangunan berskala besar dibanding sekedar “bermain” di tingkat lokal dan regional.









