Gilles Milton dalam Nathaniel’s Nutmeg (2000) mengungkapkan bangsa Romawi menggunakan pala dan biji adas manis untuk mengawetkan daging dan membumbui anggur. Mengutip Sir Topaz dalam Canterbury Tales, ia berbicara tentang kerinduannya akan roti jahe, permen hitam dan bir rasa “notemuge” (pala). Pada masa Shakespeare dituliskan, kurang lebih 20 tahun sebelum armada Courthope (Inggris) mendarat di pulau Run Banda Maluku, kemewahan seperti itu telah menjadi hal yang umum. Sepanjang Abad Pertengahan, Venesia menguasai jalur rempah dengan tangan besi. Pala, cengkeh, lada dan kayu manis diangkut menyeberangi Asia ke pusat perdagangan besar Konstantinopel, tempat para pedagang Venesia membelinya dengan cepat dan mengapalkannya ke arah barat melintasi Mediterania.
Fakfak, What Next?
Pala sebagai tanaman rempah menjadi salah satu komoditas unggulan pengembangan rempah-rempah Nusantara. Sektor pertambangan boleh saja menjadi sektor yang diunggulkan dalam mendukung pertumbuhan makro, tetapi jangan lupa bahwa sektor pertanian sebagai sektor primer masih memberi dampak langsung pada pertumbuhan skala mikro. Disamping pala sebagai komoditas utama, masyarakat Fakfak dapat mengembangkan roduk rempah-rempah yang lain sebagai komoditas pendukung.









