Ramadan di Gaza bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Mereka sudah lama menahan keduanya, bahkan sebelum fajar dan setelah maghrib.
Ramadan bagi mereka adalah pengingat yang lembut, bahwa iman tidak bisa dihancurkan dengan rudal, bahwa harapan tidak bisa dikubur bersama puing-puing.
Di tempat yang dikepung, mereka tetap menulis Marhaban.
Di kota yang diluluhlantakkan, mereka tetap menggantungkan warna.
Di seluruh penjuru Gaza, dengan kemeriahan yang seadanya, mereka tetap menyambut bulan suci dengan senyum mengembang.
Maka sesungguhnya, Ramadan di Gaza bukan sekadar bulan ibadah.
Ia adalah pernyataan hidup.
Ia adalah nyala kecil yang menolak padam, meski angin perang berembus tanpa henti.
Dari reruntuhan itu, dunia seharusnya belajar:
bahwa iman tidak pernah runtuh, bahkan ketika tembok-tembok roboh.
Gaza mungkin porak-poranda,
tapi Ramadan membuatnya tetap bernyawa.
Dan selama masih ada anak-anak yang tersenyum di atas bongkahan beton,
selama masih ada seniman yang menulis Marhaban Ramadan di tembok-tembok retak,
selama warna-warna kecil itu masih tergantung di langit Gaza,
selama itu pula Gaza belum mati.
Ia hanya sedang menunggu fajar. (**)









