Gaza Menyalakan Ramadan dari Reruntuhan

oleh -206 views

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Di banyak tempat, Ramadan disambut dengan wajah-wajah masjid yang diperindah.

Tembok-temboknya dicat ulang dengan warna yang masih basah oleh harapan.
Halaman disapu pelan-pelan, seperti merapikan hati yang hendak menyambut tamu agung.

Karpet dijemur di bawah matahari, ditiup angin yang lembut, seakan ingin mengusir sisa-sisa letih setahun yang lalu.

Lampu-lampu digantungkan, pengeras suara diperiksa, dan tangan-tangan manusia bekerja dengan ritme yang tenang.

Ada kegembiraan yang tidak berisik, kegembiraan yang mengendap, seperti doa yang belum selesai diucapkan.

Tapi di Gaza, Ramadan datang dari sela-sela puing.

Dari celah tembok yang retak.

Dari jalan-jalan yang lebih mirip kuburan bangunan daripada perkampungan manusia.

Baca Juga  Golkar Desak Pelaku Penikaman Nus Kei Dihukum Berat

Namun keajaiban itu tidak tumbuh di satu titik saja.
Ia menyebar di seluruh Gaza, seperti cahaya kecil yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain.

Di gang-gang yang setengah hilang, di sudut-sudut kamp pengungsian, di halaman-halaman rumah yang tinggal fondasinya, warga menggantungkan potongan-potongan kertas warna-warni.

Kertas-kertas itu diikatkan dari satu titik ke titik lain, bersilangan di udara seperti anyaman doa yang tak mau putus.

Tak ada lampu mewah.
Tak ada dekorasi mahal.
Hanya potongan kertas, seutas tali, dan tangan-tangan yang menolak menyerah.

No More Posts Available.

No more pages to load.