Gempa Magnitudo 7.2 Labuha, 2 Orang Meninggal Dunia, Ribuan Mengungsi

oleh -92 views
Link Banner

@porostimur.com | Ternate: Dua warga dilaporkan meninggal dunia akibat tertimpa beton rumah ketika terjadi Gempa Magnitude 7.2 yang terjadi pada Minggu, (14/7/2019) sekitar pukul 16.10.51 WIB, di wilayah Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Data yang diperoleh porostimur.com dari BPBD Halsel menyebutkan, 2 orang korban meninggal yakni: Aisya berusia (45) warga Desa Gane Luar, Kecamatan Gane Timur dan satu warga Desa Paspalele, Kecamatan Gane Barat.

BPBD Halsel masih berusaha melakukan pendataan terhadap korban yang meninggal dan luka-luka serta rumah dan fasilitas umum yang rusak sejak tadi malam hingga siang ini.

Personil Tanggap Darurat BPBD Provinsi Maluku Utara juga telah diterjunkan ke lokasi gempa untuk membantu BPBD setempat.

Link Banner

Selain ratusan bangunan rumah warga terutama di Kecamatan Gane mengalimi kerusakan, terdapat juga fasilitas pemerintah lainnya yang juga mengalami kerusakan. Salah satunya rumah Dina’s Kapolsek Game Barat.

Baca Juga  Resufle Bisa Memperbesar Krisis Kabinet

Hingga malam ini masih terus terjadi gempa susulan dengan skala beragam. BMKG mencatat sudah terjadi 37 kali lebih gempa susulan.

Untuk diketahui, tadi malam sekitar pukul 12.45 WIT, terjadi gempa denga kekuatan cukup besar yang dirasakan warga. BMKG Pusat mencatat sekitar pukul 22:44:21 WIB kembali terjadi gempa dengan kekuatan 5.2 SR dengan kedalaman 10 Km, dengan titik kordinat 0.55 Lintang Selatan – 127.88 Bujur Timur, pada 43 kilometer Timur Laut Labuha.

BMKG juga menyampaikan gempa tengah malam tersebut tidakberpotensi tsunami.

Bupati Halmahera Selatan, H. Bahrain Kasuba, telah menginstruksikan kepada Sekretaris Daerah selaku Ketua Tim Tanggap Darurat dan para pimpinan SKPD untuk bergerajk cepat.

Baca Juga  Walikota Ambon: Warna Zonasi Cuma Istilah Tingkat Kerentanan Wilayah

Langkah pertama yang harus dilakukan menurut Bahrain adalah, memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada seluruh korban gempa dan masyarakat terdampak.

Sementara itu, minimnya lokasi pengungsian membuat warga lebih memilih lari ke hutan dan tidur di jalan sekitar daerah perbukitan. Warga lebih mengutamakan wanita, lansia dan anak-anak. (red)