Golkar, Semakin Goyang Semakin Rindang

oleh -690 views
Jannus Siahaan

Manuver politik Airlangga yang sempat disebut oleh Luhut Binsar Panjaitan sebagai aksi “shopping around” tersebut memicu suara lain di dalam partai.

Luhut bereaksi menentangnya dan berusaha mendorong terjadinya Munaslub dengan memajukan nama Bahlil Lahadalia sebagai calon pengganti Airlangga.

Ketegangan tersebut mereda setelah Partai Golkar, bersama dengan PAN, secara mendadak menghentikan manuvernya, lalu mendukung Prabowo – Gibran sebagai calon presiden dan wakil presiden resmi versi Partai Golkar.

Sementara PKB, setelah kekuatan keluarga Gus Dur digusur, Cak Imin mendominasi interaksi kekuasaan di dalam Partai.

Keberhasilan Cak Imin mengamankan kepentingan PKB dan NU di dalam kekuasaan membuatnya juga berhasil menenangkan basis politik dari NU di dalam PKB.

Baca Juga  Yahya Staquf Pastikan Maju Lagi sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU 2026

Sehingga di saat pergantian pemerintahan dari SBY ke Jokowi, Cak Imin terpantau cukup “relax” menghadapinya, karena PKB sedari awal sudah berada pada kapal yang tepat, yakni kapal Jokowi.

Namun pilihan Cak Imin dan PKB untuk maju pada Pilpres 2024 di luar biduk Jokowi dan Prabowo, membuat sebagian kalangan di NU, yang pada Pilpres lalu terpantau malah mendukung Prabowo – Gibran, mulai mempertanyakan kepemimpinan Cak Imin di PKB.

Dan nampaknya dari sanalah awal mula kisruh antara Cak Imin dan NU yang belakangan mulai ramai di ruang publik. Cak Imin ternyata belum bisa duduk tenang, meski rekonsiliasi antara Cak Imin dan kubu Prabowo diyakini telah terjadi.

No More Posts Available.

No more pages to load.