Keterlibatan anak-anak muda dalam hadroh, menurutnya, menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat dan dapat diwariskan lintas generasi.
Kedua, hadroh merupakan bagian dari identitas sosial dan keagamaan masyarakat. Selain sebagai seni, hadroh dapat menjadi media dakwah dan silaturahmi.
Ketiga, kegiatan tersebut dapat diarahkan menjadi bagian dari pengembangan wisata religi Maluku.
Negeri Hitu, dengan sejarah Islam dan tradisi masyarakatnya, dinilai memiliki modal budaya yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pertunjukan, tetapi juga dapat merasakan langsung suasana religius, sejarah, tradisi, kuliner hingga kehidupan masyarakat setempat.
Dampaknya pun diharapkan tidak berhenti pada sektor pariwisata.
Pergerakan wisatawan dapat membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, pengrajin dan masyarakat yang terlibat dalam berbagai aktivitas pendukung pariwisata.
“Insya Allah, Negeri Hitu akan menjadi salah satu destinasi wisata religi unggulan di Maluku,” harapnya.
Kepada para peserta festival, Lewerissa juga mengingatkan agar kompetisi tidak semata-mata dipandang sebagai ajang mencari pemenang.
Kemampuan terbaik tetap harus ditampilkan, tetapi sportivitas dan persahabatan antarpeserta menjadi bagian yang tidak kalah penting.








