Porostimur.com, Saparua — Agenda makan patita dalam rangkaian perayaan 150 Tahun Gedung Gereja PNIEL Negeri Ouw dan 209 Tahun Baptisan Pertama di Negeri Ouw, Kecamatan Saparua Timur, Kabupaten Maluku Tengah, tidak sekadar menjadi tradisi makan bersama. Lebih dari itu, makan patita menjadi ruang pewarisan nilai, identitas budaya, sekaligus pesan lintas generasi bagi masyarakat Negeri Ouw.
Sebagai tradisi khas Maluku, makan patita menghadirkan suasana kebersamaan, persaudaraan, dan cinta kasih. Momentum ini juga memperlihatkan bagaimana budaya lokal masih hidup dan menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, salah satunya melalui penggunaan gerabah tradisional karya pengrajin Negeri Ouw.
Gerabah Tradisional Perkuat Identitas Budaya
Dalam agenda makan patita tersebut, berbagai peralatan makan tradisional digunakan, mulai dari sempe, tajela (panci masak), taloi (piring makan), hingga gelas tanah. Seluruh peralatan tersebut merupakan hasil karya pengrajin lokal Negeri Ouw yang masih diproduksi dan digunakan hingga kini.
Penggunaan gerabah dalam makan patita tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga sarat makna. Gerabah menjadi simbol identitas, keberlanjutan tradisi, serta bukti bahwa kearifan lokal Negeri Ouw tetap terawat di tengah perubahan zaman.





