Pariwisata mematikan serikat-serikat buruh. Ia bahkan mematikan rasa keadilan. Mereka yang menciptakan kenyamanan harus hidup didalamnya dan terseret merasa nyaman. Ilusi-ilusi inilah yang terus menerus dihidupkan. Tersenyum sekalipun kau babak belur.
Persis ini pula yang terjadi pada politik transaksional. Kau lihat para elit itu. Mereka saling beramah tamah. Mereka saling rangkul. Kau pergilah ke mesin-mesin ATM bank-bank pemerintah, kau lihat seorang politisi mengkotbahimu dengan “akhlak.”
Mereka menuntut kamu berakhlak. Tentu saja, akhlak untuk kamu dan menurut mereka. Lalu apakah tingkah laku mereka ada dalam standar akhlak yang diterapkan kepadamu? Ya jelas tidak. Mereka punya standar akhlaknya sendiri — yang tergantung pada kepentingannya.
Lalu siapakah yang peduli pada soal-soal keadilan? Soal hak-hak dasar manusia untuk hidup?
Saya ingatkan lagi, tiga belas orang yang pernah saya kenal dalam hidup saya dihilangkan. Tanpa bekas. Pelakunya sekarang duduk dalam jajaran elit negeri ini.
Dan kau? Masih tersenyum ramah bukan?











