Pendirian sekolah ini didukung oleh berbagai tokoh yang tersebar dari Kampung Makassar, Falajawa, dan Kampung Tengah (Kel. Gamalama), Kota Ternate.
Untuk memenuhi tenaga pengajar, akhir 1964 dikirimlah 41 orang pemuda Ternate ke Palu untuk menimba ilmu di sana, dipimpin oleh KH M. Said Abdullah (Alm). Mereka naik KM Tombong menuju Bitung lalu dilanjutkan dengan KM Aru Mariner menuju Donggala/Palu.
Tak lama berselang, beberapa guru dari Palu kemudian disebarkan ke berbagai pelosok Maluku Utara. Antara lain Ustad Musa Lasawedi (Ternate) Ustad Abbas(Moti), Ustad Said Beddu(Makean), Ustad Ahmad Bakhtiar(Bacan), serta Ustad Syamsuddin(Kayoa) dan lainnya. Mereka mengajar kemudian menikah dengan wanita lokal, hingga wafat di “tanah pengabdian” Maluku Utara.
Menyusul kemudian Ustad Prof Dr. Ahmad Bachmid (Alm) asal Manado dan ditempatkan di Ternate. Sebelum wafat tahun 2022, beliau mengabdi di UIN Ciputat Jakarta sebagai Guru Besar Sastra Arab. Sedangkan Ustad Prof Dr. M. Nur Sulaiman (Alm) cukup lama mengabdi di Ternate. Beliau kemudian kembali ke Palu, lalu diangkat menjadi Rektor IAIN Palu setelah itu menjadi Kakanwil Kemenag Sulawesi Tengah.
***
Generasi 70an yang juga alumni Alkhairaat Palu dan mengabdikan diri mereka untuk eksistensi Alkhairaat, antara lain ada Ustad Salim Albaar (Alm), Ustad Yahya Misbah, Ustad Abdul Gani Kasuba. Keduanya sempat menimba ilmu di Madinah, KSA. Terakhir Ustad Yahya pernah menjabat Dekan IAIN Ternate, sedangkan Ustad Gani kini menjabat Gubernur Maluku Utara selama dua periode, setelah sebelumnya menjabat anggota DPR-RI serta Wakil Gubernur Maluku Utara.










