Hati Sukma dan Akal Menurut Para Filsuf dan Sufi

oleh -344 views
Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber marifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Foto/Ilustrasi: Ist

Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani.

Akal
Jalaluddin Rakhmat mengatakan akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan “hati” adalah daya jiwa (nafs nathiqah).

Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah) dan pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa).

Baca Juga  Tuna Yellowfin Asal Maluku Siap Bidik Pasar Asia Tenggara

Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi –akal perolehan (akal mustafad)– ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (surga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka).

No More Posts Available.

No more pages to load.