Hati Sukma dan Akal Menurut Para Filsuf dan Sufi

oleh -345 views
Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber marifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Foto/Ilustrasi: Ist

Hati sukma dan akal menurut filsuf dan sufi disampaikan Jalaluddin Rakhmat dalam buku berjudul “Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah“. Menurut Jalaluddin, yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani –daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berpikir itulah yang disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya.” ( QS 7 :1-79).

Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakikat manusia itu jiwa yang berpikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia.

Baca Juga  Ambulans Laut Pemkot Ternate Dinilai Tak Memadai

Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir.

Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma’rifat –suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh takwa, wara’ serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi sumber atau wadah ma’rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas.

No More Posts Available.

No more pages to load.