Aku tidak menyangka dengan keadaan yang baru saja terjadi. Aku takut ini hanyalah mimpi belaka. Aku mencubit pipiku dan merasakan sakit, ternyata ini benar-benar terjadi. Aku sama zaiden berbeda, seharusnya dia harus bersama orang yang setara, yang sebanding, bukan seperti aku yang hanya biasa-biasa saja.
Dalam hatiku, perasaan campur aduk muncul. Ada rasa senang karena bisa dekat dengan Zaiden, namun juga ada keraguan karena perbedaan di antara kami. Teman-teman yang melihatku tadi juga mungkin tak menyangka, ada perasaan iri dari beberapa di antaranya dan ada yang tidak menyukai situasi ini.
Keesokan harinya, cuaca begitu cerah dan tak ada mendung yang menggelayuti langit. Sepertinya semesta pun mendukung untuk memberikan hari yang indah. aku menepati janjiku untuk menonton pertandingan basket yang diketuai oleh zaiden.
Zaiden melihatku di kursi penonton, lalu tersenyum ke arahku. Saat bersiap memulai pertandingan, matanya tak lepas dari hadapanku. Tatapan matanya penuh semangat saat berada di lapangan, dan setiap gerakan yang dia lakukan begitu memukau. Aku takjub melihatnya bermain dengan begitu lihai.
Setelah selesai, langit berganti warna menjadi kemerahan dan oranye yang indah, pertandingan basket dimenangkan oleh regu Zaiden dari SMA Cakrawijaya. Setelah berfoto dengan regunya, dia langsung menghampiri aku. Aku kaget saat dia tiba-tiba menarikku ke taman dekat tempat pertandingan.










