Mereka meminum air dari mata air tanpa mengetahui sumbernya. Fenomena inilah yang sebenarnya menarik. Kita sering mengira sebuah karya besar hidup karena dipelajari di sekolah. Padahal karya besar bertahan justru karena terus diciptakan ulang.
Shakespeare hidup bukan hanya melalui naskah drama, tetapi juga melalui film, musikal, anime, hingga meme internet. Demikian pula Homer. Ia berpindah dari syair lisan menjadi manuskrip, dari manuskrip menjadi novel, dari novel menjadi komik, dari komik menjadi gim, dari gim menjadi film IMAX.
Masterpiece tidak menuntut kesetiaan pada bentuk. Ia hanya meminta agar jantung ceritanya tetap berdetak. Dalam hal ini, Nolan tampaknya memahami sesuatu yang sering dilupakan para penjaga “kemurnian”. Ia tidak membuat museum. Ia membuat film.
Sebagian filolog mungkin kecewa karena ada tokoh yang dihilangkan, perempuan yang dipersempit perannya, atau dialog yang terdengar terlalu modern. Kritik itu sah. Namun justru di situlah paradoks karya klasik bekerja. Setiap generasi selalu menulis ulang masa lalu sesuai kegelisahannya sendiri.
Kalau semua adaptasi harus identik dengan teks asli, mungkin Homer sudah lama menjadi fosil. Yang membuatnya tetap hidup justru keberanian setiap zaman untuk berdialog dengannya, bahkan sesekali membantahnya.









