Homer Setelah Tiga Ribu Tahun

oleh -6 Dilihat

Di situlah pelajaran terbesar bagi dunia pendidikan kita. Kita terlalu sering memperlakukan karya besar sebagai benda keramat yang harus dihafalkan. Padahal karya besar tidak meminta untuk dihafal. Ia meminta untuk diajak bercakap-cakap.

Anak-anak Indonesia mungkin tidak akan langsung membaca 12.000 baris Odyssey. Tetapi mereka bisa mulai dari film Nolan. Dari sana mereka bertanya, siapa Odysseus? Mengapa ia begitu penting? Mengapa kisah ini bertahan tiga ribu tahun?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berharga daripada sekadar menghafal nama tokohnya. Sebab pada akhirnya, ukuran sebuah masterpiece bukanlah berapa banyak penghargaan yang ia menangkan.

Melainkan berapa lama ia tetap mampu melahirkan karya baru setelah penciptanya sendiri telah menjadi debu.

Homer mungkin telah meninggal hampir tiga ribu tahun lalu. Tetapi minggu ini, di sebuah bioskop di Jakarta, Surabaya, Makassar, atau Medan, lampu kembali dipadamkan. Layar menyala. Musik mulai menggelegar. Penonton menahan napas.

Baca Juga  Kejari Halsel Mulai Telusuri Dugaan Korupsi Dana Hibah Rp5,2 Miliar di Kesbangpol

Dan seorang penyair tua dari Yunani, entah benar-benar pernah ada atau tidak, sekali lagi mulai bercerita.

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 19/7/2026

No More Posts Available.

No more pages to load.